Banner Kartu XL
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Butir Kegelisahan

Tak bisa kupungkiri memang, beberapa hari ini aku terus mencoba menentramkan jiwa, menyelimuti kalbu yang mulai tertoreh. Menutupi kegelisahan yang aku sendiri tak memahaminya. Aku melangkah setapak, namun masalah itu masih ada. Kembali ku gelengkan kepala, Aku menjerit pelan " Pergilah, aku mohon..." . Terasa ruang ini begitu sempit. Padahal sebelumnya aku sangat mencintai ruang ini, disinilah tempatku menghilangkan jenuh hari-hariku, melepaskan kendala yang kudapat dijalanan. Lantas, apa saat ini detik penantian itu sudah dekat? Rabb, hatiku memang gelisah, tapi aku tidak ingin mengahdapMu dalam kondisi seperti ini.

Jiwaku benar-benar tidak menentu. Aku duduk diatas kursi kesayanganku. Dimana aku melayang kedunia maya, disana aku terbang kemanapun yang aku inginkan, dan disana pula tempatku menoreh banyak cerita, menyampaikan pesan hati lewat tulisan untuk orang banyak. Kusentuh laptop dengan jari2ku perlahan. Tertulis tanpa arah. Tanpa makna. Namun, bagiku tulisanan itu begitu menyimpan makna. Sebegitukah keadaan hatiku saat ini? ku tak menemukan ide untuk berpesta pora dengan kata-kata indah yang biasa ku tulis. Kemudian aku bangkit, berjalan kesana kemari.

Bingung. Lagi-lagi aku seperti ini. Aku merasa dunia saat ini sungguh tidak bersahabat. Bagiku dunia tidak lagi ramah. Walaupun aku tak tahu kapan ia pernah ramah. Aku bosan, bosan melihat prioritas manusia yang selalu hanya memikirkan dunia. Walau aku tidak mungkin juga lari dari dunia. Walau aku masih saja larut dalam aktifitas manusiawi yang tak bermakna. Itulah sebabnya aku merasa bosan. Dunia. Wajah aneh penuh rasa. Ada kebahagiaan, kekejaman, kesadisan dan banyak lainnya yang tak bisa kusebutkan, lebih tepatnya tak ingin kusebutkan. Dunia. Ladang fatamorgana yang manusia tak bisa lari darinya. Memang, tak mungkin terhindar darinya. Sebab kasat mata yang terlihat hanya dunia saja. Ladang akhirat akan hadir setelah adanya perenungan.

"Dunia memang indah, lebih indah dari hayalan seorang putri raja dikala menanti sang pangeran. Ia kebahagiaan dan kesenangan. Dunia itu hanya tipuan, keindahannya hanya sementara, ia tak menjanjikan apapun, walau kita sudah memperoleh kebahagiaan dari padanya, namun belum pasti bisa kita bawa hingga ke akhirat. Sahabatku, Jika memang kau lelah, berbuatlah satu hal yang bagimu itu lebih baik kau kerjakan saat ini sebab kau takut akan meninggalkan semuanya. Sahabatku,,\ Aku tahu siapa dirimu, ambillah ia, dan kerjakanlah ia, jika itu adalah ahsanul amal bagimu. Jangan pedulikan bisikan-bisikan itu, itu hanya akan membuatmu ragu untuk melangkah.

Kuhapus air mata ini. Kuharap tetesan ini menghapus khilaf yang aku lalui. Kini, hatiku mantap sudah, melangkah maju ke tanah impianku selama ini. Moga saja Aku bisa menghilangkan kegundahan yang ada dalam jasadku selama ini. Allah, aku datang untuk memelihara kalam Mu, seperti yang pernah dilakukan oleh para sahabat dulu.

SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA..!!

Kuatkan Hatiku

Ya Allah…
Dunia ku semakin mendesakku. Aku terlempar kedalam sisi terlemahku. Aku sesaat merasa hampa dan terdiam. Aku ingin kuat, namun aku tidak tahu caranya. Ya Allah, jangan hukum aku dengan kekecewaan ini. Jangan ya Rabb. Berikan aku sinar terang itu ya Rabb. Aku ingin menemui-Mu dalam sujud terindahku dalam kesendirianku. Dunia ini sungguh melenakanku.

Ya Allah…
betapa Engkau tahu diri ini lemah, sangat lemah…
kuatkanlah aku ya Rabb…
bolehkah sejenak merasakan lagi isyarat-isyarat indah nikmat-Mu yang mampu membuatku terpana dan terpesona. Ya Rabb, kabulkanlah ya Rabb. Ya Allah, berikanlah kehidupan yang baik bagi ku, masa depan yang penuh penaklukan bagi ku, aku tidak ingin menyia-nyiakan hidup yang sesaat ini.

Ya Rabb, tuhan yang Maha Mendengar..rintihan-rintihan hamba-hamba-Nya. Bolehkan aku kembali…
dan masihkan terbuka pintu bagi ku…

dan aku pun tahu…
betapa Engkau akan seperti itu…
Selamanya…
terimakasih ya Rabb…
semoga rintihan ini terjawab…
saat waktunya nanti Engkau mengirimkan untukku berita gembira tentang aku yang akan segera bertemu dengan-Mu…
Ya Allah…

Pede Donk Jadi Remaja Muslim !!!

Bener lho. Percaya diri itu bikin kita enjoy menikmati hidup. Bikin asyik menikmati tan-tangan dan rintangan. Percaya diri pun diyakini bisa menem-patkan kita sebagai orang yang bisa mengelola emosi. Duileee sampe segitunya ya? Bener. Sebab, ketika kita memiliki rasa percaya diri, kita tahu apa yang kudu kita lakukan. Kita bisa ngukur diri. Itu sebabnya, orang yang percaya dengan kemampuan dirinya, biasanya bakalan rileks en tanpa beban dalam berbuat. Ini, tidak saja membawa hasil maksimal, tapi juga antistres. Nggak percaya? Silakan dicoba.

Sobat muda muslim, percaya diri alias pede emang kudu ditumbuh-kembangkan dalam diri kita. Kita rawat, kita bersihkan, kita poles dengan apik, dan kita sirami agar terus bersemi. Insya Allah, itu akan membuat kita tak pernah merasa terbebani. Kita akan menatap masa depan dengan penuh semangat dan tentunya tak mudah goyah dengan berbagai godaan en rayuan. Mulai dari rayuan pulau kelapa ampe rayuan gombal sekali pun. Nggak mudah percaya ama rayuan. Yakin itu.



Mungkin sebagian teman kita sutris banget pas ada yang ngata-ngatain bahwa umat Islam itu terbelakang en bodoh. Emang dalem banget en nyelekit pernyataan tersebut. Terus karena kalah mental akhirnya doi nggak pede lagi jadi seorang muslim. Jangan sampe tuh ngendon juga di jiwamu!

Padahal, cobalah kita berpikir lebih jernih. Sikap minder itu muncul justru karena kita merasa rendah diri. Merasa kerdil di hadapan orang lain. Padahal sejatinya, belum tentu orang lain lebih baik dari kita. Belum tentu pula kita lebih jelek di hadapan mereka. Itu semua adalah sekadar nilai dan cara pandang aja. Meski emang kudu ada standar nilai dan standar cara pandang yang benar.

Tapi terlepas dari salah-benar standar hidupnya, rasa percaya diri itu bisa menuntun kita lebih bijak dalam bersikap. Coba aja pikirkan. Kalo ada pernyataan seperti tadi, kamu jangan terpancing dan terbawa opini untuk ikut-ikutan merasa terbelakang, hanya karena kita sebagai muslim. Lagian pernyataan itu kan nggak sepenuhnya benar. Masih perlu diujicoba dan dibuktikan argumentasinya di lapangan. Tul nggak seh?

Mungkin benar pernyataan tersebut kalo fakta yang ditunjukkinnya adalah kaum muslimin yang berada dalam kondisi miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tapi kan masih ada kalangan muslim yang kaya dan jenjang pendidikannya lebih tinggi. Nah, jadi nggak perlu minder kan?

Bahkan jika pernyataan itu memojokkan kita sekali pun, bukan berarti kita pantas untuk minder en bersedih. Sebaliknya, fakta itu kita jadikan sebagai bahan renungan untuk lebih memberikan perhatian yang banyak kepada Islam dan umatnya. Tentunya, agar di kemudian hari kita lebih terhormat. Betul?

Jadi, nggak usah minder ya. Kita berjuang tanpa bosan, tanpa beban, dan tentunya tetap semangat. Buang jauh-jauh file minder van rendah diri dari daftar file di direktori otak kita. Kita cerahkan masa depan hidup kita dengan rasa percaya diri. Apalagi, kita adalah pejuang Islam, nggak pantes deh kalo kita malah nggak pede. Malu banget tuh sama jenggot yang jumlahnya cuma lima lembar itu. Heheheh (apa hubungannya ya?)

Tetep cool ya�

Wuih, cool? Emang mainnya hobi yang dingin-dingan aja ya? Kata teman saya sih, kalo kita cool berarti profesinya nggak jauh dari tukang reparasi kulkas? Hihihi.. ngaco aja ah. You pasti udah understand -lah dengan istilah cool ini.

Oke deh, kita sepakati aja dulu tentang istilah ini. Berdasarkan kamus bahasa slang yang berceceran banyak di internet, istilah cool ini muradif alias padanan katanya sama dengan asyik. Asyik? Bener. Wah, ternyata enak juga jadi remaja yang cool ya? Jadi, tetep sa'ik alias asyik dalam menjalani hidup ini. Kita bisa kok. Nggak masalah.

Sobat muda muslim, gimana dong buat yang belum pede? Kita kan pengen juga neh. Iya ya? Yang belum pede, berarti kudu belajar untuk pede. Kalo yang udah pede mah, kudu dipertahankan ya. Biar tetep pede.

Oke deh, buat kamu yang belum pede en supaya tetep cool, kita ngasih beberapa tips nih supaya bisa pede. Secara umum tapi ye. Insya Allah tetap bermanfaat kok.

Pertama , mengenali diri sendiri. Lho, emangnya ada yang masih belum kenal dengan dirinya sendiri? Wah, jangan heran Bro , banyak di antara kita yang nggak ngeh dengan diri kita sendiri. Caranya begini. Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar 'kekayaan' pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri.

Kamu kudu nyadar dengan semua aset berharga yang kamu miliki. Terus, silakan temukan pula aset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri kamu, seperti: pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain.

Kalo pengen lebih keren, bikin deh hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunity and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengem-bangan diri yang lebih realistik. Coba ye..

Kedua , menilai diri sendiri dengan jujur. Nah lho, jarang banget nih ada orang yang pandai menilai pribadinya dengan jujur. Mayoritas kalo udah bicara tentang dirinya, pasti GUE BANGET. Orang lain mah LEWAAAT. Ih, jangan sampe begitu ya.

Sobat muda muslim, sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang kamu miliki. Ingat lho, bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi (perubahan) diri sejak dulu ampe sekarang. Kalo kamu mengabaikan/meremeh-kan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu kamu menemukan jalan yang tepat menuju masa depan.

Oya, ati-ati lho, kerana ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik en getop, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Kalo dipiki-piki, semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidak-mampuan menghargai diri sendiri--hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri. Heuheuheu.. jangan ampe hinggap di dirimu deh!

Ketiga , berpikir positif. Cobalah kamu perangi setiap asumsi, prasangka, atau persepsi negatif yang muncul dalam benak kamu. Kamu bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobody's perfect dan it's okay if I made a mistake (duileee nih ngomongnya David Beckham banget).

Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang, dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Walah?

Itu sebabnya, jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan kamu. Hati-hatilah agar masa depan kamu nggak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar. Coba ya? Iya sih! (nah kalo ini Dian Sastro banget neh! Hihihi)

Keempat , boleh deh pajang slogan-slogan oke. Tempelin dekat meja belajarmu: �Saya pasti bisa!�, �Saya akan belajar dari kesalahan ini� �Hari esok milik saya�, �Islam pasti menang!�, �Aku ingin syahid�. Wis, pokoke sebanyak-banyak yang bisa menggugah semangatmu.

Kelima , berani ambil risiko. Nah, ini juga perlu kamu kembangkan. Hidup ini selalu berubah sobat. Seringjkali bahkan kudu berani ngambil risiko. Kami nggak perlu menghindari setiap risiko, melain-kan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi risiko tersebut.

Contohnya, kamu nggak perlu menyenangkan orang lain untuk meng-hindari risiko ditolak. Jika kamu ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada risiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju berkembang dengan mengambil risiko. Ingat: No Risk, No Gain. Huhuy!

Keenam , tetapkan tujuan yang realistis. Nah, ini perlu sobat. Kamu perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang kamu tetapkan selama ini; apakah tujuan tersebut sudah realistik atau nggak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan kamu dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian kamu akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya risiko yang tidak diinginkan.

Ketujuh , bersyukur dan tawakal. Wajib deh buat kita semua untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Kita kadang sulit menghadapi hidup ini, tapi dengan banyak bersyukur, pikiran dan perasaan kita jadi lebih tenang menghadapinya.

Moga beberapa tips yang berhasil saya ramu dari berbagai pendapat ini bisa bikin kamu tambah pede en tentunya tetep cool ya.

Islam bikin kita pede

Ada beberapa alasan yang sebenarnya bisa bikin kita pede dengan jadi muslim. Islam, agama kita, memiliki banyak kelebihan yang bisa dibanggakan. Dan tentunya bisa bikin pede dong. Jadi bener ya, kalo kita kenal dengan agama kita sendiri, dan tahu apa aja kelebihan-nya, insya Allah bikin pede.

Pertama , Islam mengajarkan bahwa tuhan kita adalah Allah. Maha segalanya. Tuhan yang lain mah lewaat deh. Firman Allah Swt.: �Katakanlah: �Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia�. (QS al-Ikhlas [112]: 1-4)

Insya Allah ini juga bisa bikin kita pede. Kepada siapa lagi coba kita akan menyembah kecuali kepada Allah? Betul?

Kedua , Islam juga punya al-Quran. Ini benar-benar the amazing book . Pedoman hidup kita dari masalah yang kecil ampe yang besar. Mulai soal bersuci sampe pemerintahan dan negara. Wuih, mana ada kitab lain yang bisa begitu? Wah bener-bener bikin pede dan membanggakan banget.

Sampe-sampe W.E. Hocking berkomen-tar, �Oleh karena itu, saya merasa benar dalam penegasan saya, bahwa al-Quran mengandung banyak prinsip yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya sendiri. Sesunguhnya dapat dikata�kan, bahwa hingga pertengahan abad ke tiga�belas, Islam-lah pembawa segala apa yang tumbuh yang dapat dibanggakan oleh dunia Barat.� ( The Spirit of World Politics, 1932, hlm. 461 )

Ketiga, kita punya nabi yang dikagumi orang sejagat. Rasulullah saw. diakui oleh kawan dan lawannya. Penulis buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia , Michael Hart, menyebutkan, �Dia (Muhammad saw.) adalah orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah kehidupan manusia lebih dari Newton dan Yesus (Nabi Isa) atau siapapun di dunia ini.�

Oke deh, paling nggak itu beberapa alasan kenapa kita kudu pede jadi remaja muslim. Yuk, kita sama-sama membangun rasa percaya diri dan mempertahankannya.Kita bisa mencoba mulai dari sekarang. Nggak perlu nunggu lama lagi. Apalagi, kita sebagai remaja muslim dan juga pengemban dakwah. Kalo sampe nggak pede, aduh, malu atuh!

Arti Sebuah Perbedaan

Saat mengendarai sepeda motor sepulang kerja, di depan saya ada sebuah mobil sedan. Karena jalanan cukup sempit saya nggak bisa menyalipnya dengan mudah. Apalagi dari arah berlawanan sering ada mobil juga. Setiap kali direm, di bagian belakang mobil sedan itu, di balik kaca belakangnya, ada tulisan teks berjalan dengan warna merah yang membuat saya harus berpikir keras untuk menyerap maknanya. Kalimat itu tertulis: “Jangan berani untuk sama”.

Jangan berani untuk sama? Ya, ada baiknya juga memang kalimat tersebut, meski kalimat itu menurut saya sangat bersayap alias bisa berarti banyak. Tergantung siapa yang menerjemahkannya dan untuk menjelaskan beragam maksud. Tentu sesuai pula dengan persepsi masing-masing orang. Itulah sebabnya kalimat tersebut saya nilai sebagai kalimat “bersayap”.


Kalimat “Jangan berani untuk sama”, bisa berarti bahwa kita nggak perlu minder untuk berbeda dengan yang lain. Bahkan perbedaan itu sangat boleh jadi justru sebuah keberanian. Tentu, kalo untuk sesuatu yang sama, nggak usah (terlalu) berani. Begitu kira-kira. Sebuah pilihan yang mungkin saja sudah dipertimbangkan sangat matang. Nggak asal aja.

Misalnya nih, kalo ada temen yang punya hobi mantengin info olahraga sepakbola mancanegara (dari mulai baca sampe nonton setiap pertandingannya di televisi), ya kita nggak perlu harus merasa sama dengan hobi temen kita itu. Apalagi jika kita nggak terlalu suka dengan segala hal yang berkaitan dengan sepakbola. Tapi, karena ingin dianggap gaul soal sepakbola dan supaya diterima dalam komunitas itu, akhirnya kita memberanikan diri untuk punya hobi yang sama. Hmm.. itu salah besar karena nggak mau jujur sama diri sendiri. Betul nggak sih? Meski tentu saja, dalam hal ini, kalo pun pengen sama hobinya dengan teman kita itu, silakan saja. Mubah aja kok.

Persamaan dan perbedaan
Sobat muda muslim, persamaan dan perbedaan itu memang bisa berarti banyak dan bisa banyak persepsi. Itu sebabnya, kita preteli dikit-dikit, pilah-pilah supaya bisa menentukan sikap. Nggak asal beda aja, atau nggak cuma merasa sama dengan yang lain. Setuju kan?

Nah, kalo kita ‘syarah’ (dianalisis dan diperjelas) lagi, insya Allah kita bisa nentuin sikap. Misalnya tentang keputusan kita memilih menjadi aktivis rohis. Tentunya kita memilih berbeda dengan kebanyakan teman lain yang justru saat itu lebih cenderung gabung di klub ekskul olahrga, tari, pecinta alam, atau kegiatan lainnya. Berbeda dari teman lain dengan menjadi aktivis rohis, tentunya ini adalah sebuah keberanian. Iya kan? Berani untuk beda dengan teman yang ‘biasa’ aja, dan berani untuk sama dengan aktivis rohis.

Lalu bagaimana dengan teman kita yang justru ingin berbeda dari komunitas anak rohis? Ia nggak berani untuk sama dengan anak rohis. Tapi berani untuk berbeda dari anak rohis dengan menjadi anak gaul yang hobinya dugem dan gaul bebas dengan lawan jenis. Baginya, menjadi aktivis dugem dan gaul bebas adalah sebuah keberanian untuk tidak sama dengan anak rohis.

Memang sih itu pasti bergantung sudut pandang. Maka, sebuah standar wajib dimiliki. Supaya nggak semua orang bisa mengklaim bahwa dirinya benar. Boleh aja sih merasa dirinya benar, tapi harus bisa buktiin dengan kuat kalo dirinya tuh benar.

Lha, kalo yang kayak gini gimana jadinya? Hmm.. itu sebabnya, menurut saya kalimat itu disebut “bersayap” alias banyak arti tergantung persepsi orang yang menerjemahkannya. Waduh, gimana urusannya dong? Mana yang benar dan mana yang salah? Kapan boleh berbeda dan kapan seharusnya sama?

Tenang sobat, nggak usah keburu bingung atau stres. Ini justru menurut saya adalah bagian dari kelemahan kita sebagai manusia. Dengan demikian, kita memang nggak bisa menentukan sesuatu itu benar atau salah sesuka hati, pikiran, atau perasaan kita (termasuk hawa nafsu kita). Bahaya. Karena apa? Karena bisa jadi banyak persepsi. Singkatnya, kita perlu standar yang mengatur batasan-batasan tersebut. Ya, kudu ada ukuran yang fixed. Nggak bisa sembarangan.

Inilah barangkali alasan kenapa “ukuran panjang satu meter” pun sudah ditetapkan secara internasional. Alat pengukur lain harus dikalibrasi (diuji, dicocokan) dengan standar yang dibuat. Supaya ada kesamaan dan kejelasan penilaian. Bayangin deh kalo untuk sebuah ukuran saja harus ada sekian ukuran yang ditentukan sesuai selera masing-masing, kita pasti bingung pilih yang mana. Iya kan? Misalnya aja ukuran panjang “sedepa” itu diukur lewat panjang rentangan dua tangan tiap orang yang beda-beda. Kalo kemudian masing-masing orang meyakini sesuai pengukurannya, kita pusing. Karena setiap ukuran panjangnya jadi sesuai ‘ukuran’ rentangan tangan masing-masing. Padahal, orang yang tinggi dengan yang pendek pasti beda ukuran rentang tangannya. Betul apa bener?

Boleh beda, tapi ada saatnya wajib sama
Sobat muda muslim, saya menulis artikel ini dengan judul, “arti sebuah perbedaan” tentu bukan tanpa alasan, lho. Begini nih penjelasannya. Berbeda boleh saja kok. Asal, itu dalam sebuah koridor yang dibolehkan untuk berbeda. Misalnya, untuk selera makan, ya nggak bisa disamain tiap orang.

Rasa suka kepada lawan jenis juga nggak bisa disamain untuk semua orang. Warna baju juga boleh berbeda kok. Termasuk boleh juga berbeda pendapat dalam masalah furu’iyah (cabang). Misalnya, kita nggak bisa maksa orang untuk melakukan sholat shubuh dengan melakukan qunut atau tidak. Karena kedua pendapat itu masing-masing memiliki dalil. Untuk kasus ini nggak perlu ributlah. Nggak perlu mengklaim salah satu benar dan satunya pasti salah. Karena yang seharusnya disalahkan adalah yang nggak sholat shubuh. Seharusnya kedua belah pihak bersatu padu untuk menyadarkan yang masih belum mau sholat shubuh. Tul nggak seh?

Bagaimana dengan yang tidak boleh berbeda (dan itu harus sama), dalam masalah apa aja? Nah, menurut saya di sini berlaku pernyataan bahwa “bagi yang mau sama”, dapet gelar berani. Misal, sebagai muslim kita wajib menjadikan Islam sebagai the way of life kita. Bukan agama lain, atau kepercayaan lain (termasuk ideologi lain) untuk menuntun hidup kita. Ya, cuma Islam. Di sinilah kita wajib sama dan kudu berani untuk sama. Karena kesamaan ini jelas ada dalilnya. Ketika kita sudah menyatakan sebagai muslim, maka seluruh kehidupan kita harus rela diatur oleh Islam. Bukan yang lain.

Lho kok Islam sih? Ya iyalah, memangnya mau aturan yang mana? Apakah kepala sekolahmu nggak marah dan murka kalo sekolah di sekolahnya, tapi kamu malah milih aturan sekolah lain, atau setidaknya nggak percaya dengan aturan di sekolahmu sendiri. Adil nggak sih? Begitu juga dengan Islam. Kalo udah menyatakan masuk Islam, berarti kudu setia diatur sama Islam. Iya ndak?

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan..” (QS al-Baqarah [2]: 208)
Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. telah memerintahkan hamba-hambaNya yang mukmin dan mempercayai RasulNya agar mengadopsi sistem keyakinan Islam (‘akidah) dan syari’at Islam, mengerjakan seluruh perintahNya dan meninggalkan seluruh laranganNya selagi mereka mampu.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir I/247)

Imam an-Nasafiy menyatakan bahwa, ayat ini merupakan perintah untuk senantiasa berserah diri dan taat kepada Allah Swt. atau Islam (Imam an-Nasafiy, Madaarik al-Tanzil wa Haqaaiq al-Ta’wiil, I/112).

Imam Qurthubiy menjelaskan bahwa, lafadz “kaaffah” merupakan “haal” dari dlamiir “mu’miniin”. Makna “kaaffah” adalah “jamii’an.” (Imam Qurthubiy, Tafsir Qurthubiy, III/18)

Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa, ayat ini diturunkan pada kasus Tsa’labah, ‘Abdullah bin Salam, dan beberapa orang Yahudi. Mereka mengajukan permintaan kepada Rasulullah saw. agar diberi ijin merayakan hari Sabtu sebagai hari raya mereka (padahal mereka sudah masuk Islam). Selanjutnya, permintaan ini dijawab oleh ayat tersebut di atas.

Terus nih, Imam Thabariy juga menyatakan: “Ayat di atas merupakan perintah kepada orang-orang beriman untuk menolak selain hukum Islam; perintah untuk menjalankan syariat Islam secara menyeluruh; dan larangan mengingkari satu pun hukum yang merupakan bagian dari hukum Islam.” (Imam Thabariy, Tafsir Thabariy, II/337)

Ini artinya, kita nggak boleh menawar-nawar lagi untuk melakukan ibadah yang bukan berasal dari Islam. Misalnya aja, bagi seorang mualaf, karena dulunya setiap minggu ke gereja untuk kebaktian, maka setelah masuk Islam udah nggak boleh lagi tuh ikutan kebaktian di gereja. Karena emang udah bukan lagi ajaran dari Islam. Sebaliknya wajib taat sama Islam.

Sobat muda muslim, dengan ayat ini, berarti kita kudu total dalam memeluk Islam. Nggak boleh belang-belang. Nggak boleh setengah-setengah. Jangan sampe berbagai aturan kita pake untuk ngatur hidup kita, padahal kita muslim. Itu namanya “malapraktek”. Kita ngakunya muslim, tapi nyuri barang orang lain jadi hobi kita. Kita bilang ke mana-mana bahwa kita aktivis rohis, ternyata kita malah melakukan pacaran. Ortu kita rajin ngajinya, tapi yang diulik bukan al-Quran, melainkan primbon Jawa atau ajaran sekularisme. Lha, ini jelas salah prosedur, guys!

Di sinilah kita harus berani untuk sama. Nggak boleh nekat berbeda. Allah kembali menjelaskan dalam firmanNya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

Sebagai kesimpulan, bahwa “arti sebuah perbedaan” itu kudu jelas batasannya. Ada saatnya kita boleh berbeda, tapi ada saatnya kita harus sama. Tapi standar boleh dan tidaknya kita berbeda atau sama itu hanya aturan Islam. Ya, itu karena kita sebagai seorang muslim.

Guys, jangan sampe kita berani untuk beda, tapi ternyata “bedanya” kita itu malah dibenci dalam ajaran Islam. Karena apa? Karena perbedaan yang kita kampanyekan justru melanggar ajaran Islam. Misalnya, kita sebagai muslim berani beda dengan cara mengkampanyekan pentingnya demokrasi dan sekularisme sebagai the way of life kita. Atau, kita menganggap bahwa Islam nggak boleh diterapkan sebagai ideologi negara. Wah, itu sih namanya perbedaan yang tak pantas disandang dan bahkan mencoreng kepribadian kita sebagai Muslim. Bukan pahala yang didapat, tapi dosa. Ati-ati ya Bro! Yuk, kita berani sama menjadi seorang muslim yang taat dan pejuang Islam. Itu baru oke!

Beragama Kok Bebas Sich ???

Jamaah Ahmadiyah masih bisa senyam-senyum. Pasalnya mereka lagi di atas angin. Setelah kasus Monas, justru umat Islam yang menuntut pembubaran Ahmadiyah jadi terdakwa. Bukan cuma itu, umat Islam juga malah berantem sendiri di berbagai daerah.

Ini semua terjadi atas nama kebebasan berkeyakinan dan beragama. Menurut para pendukungnya, seperti AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan), Ahmadiyah nggak boleh dibubarkan. Melarangnya sama dengan melanggar HAM dan kebebasan beragama.

Sebenarnya gimana sih soal kebebasan beragama? Apa bener Islam tuh selalu maksain keyakinannya pada pemeluk agama lain? En apa bener Ahmadiyah itu adalah islami? Itu semua kita bahas di gaulislam edisi ini. Loading...


Soal Ahmadiyah

Umat Islam memang pantes geram en kesel. Sebab, SKB (Surat Keputusan Bersama) tiga menteri yang dikeluarkan pada Senin, 9 Juni 2008 lalu sekadar “peringatan” untuk Jamaah Ahmadiyah. Bukan melarang apalagi membubarkan kelompok tersebut. Rencananya para ulama dan tokoh-tokoh Islam akan kembali meminta pemerintah untuk membuat SKB tentang pelarangan dan pembubaran Ahmadiyah. Belum ada perubahan “status” SKB sampai tulisan ini dibuat.

Eksistensi jamaah Ahmadiyah juga didukung oleh sejumlah kalangan, di antaranya ya AKKBB itu. Para penggiat Ahmadiyah juga berkampanye kalo ajaran mereka nggak menyimpang dari Islam. Di koran Republika pada 23 Mei 2008, misalnya, mereka menulis kalo Ahmadiyah itu bagian dari jamaah Islam.

Pendapat mereka juga diperkuat oleh sejumlah orang yang mengaku kyai. Para ‘kyai’ ini bilang kalo kitab Tadzkirah yang dijadikan pegangan oleh jamaah Ahmadiyah, hanyalah kumpulan fatwa. Bukan kitab suci seperti yang dituduhkan banyak orang. Kesimpulan sejumlah kyai ini, tuduhan bahwa Ahmadiyah itu sesat adalah mengada-ada dan ngawur.

Pendukung Ahmadiyah yang lain adalah jamaah AKKBB. Bagi mereka, ajaran Ahmadiyah kudu dibela. Pasalnya dalam UUD 45 pasal 29 ayat 2, kan negara wajib menjaga kebebasan berkeyakinan dan beribadah. Negara nggak mengatur mau berkeyakinan apa dan ibadahnya bagaimana, yang penting semua agama dan aliran layak hidup di bumi Indonesia. Lagian, kata mereka, itu adalah hak asasi manusia. Nggak boleh ada kelompok manapun yang memaksakan keyakinannya pada orang lain, atau melarang keyakinan tertentu.

Of course, pernyataan bahwa ajaran Ahmadiyah itu sesat, bukan cuma isapan jempol. Kitab Tadzkirah yang dikatakan sejumlah orang yang mengaku ‘kyai’ itu bukan cuma kumpulan fatwa lho, tapi sudah dianggap wahyu muqaddas (wahyu yang disucikan). Kemudian pengakuan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) sebagai nabi juga bukan tuduhan, emang dari sononya ia ngaku begitu. MGA berkata, “Dalam wahyu ini Tuhan menyebutkanku RasulNya, karena sebagaimana sudah dikemukakan dalam Brahin Ahmadiyah, Tuhan Maha Kuasa telah membuatkan manifestasi dari semua nabi, dan memberiku nama mereka. Aku Adam, aku Seth, aku Nuh, aku Ibrahim, aku Ishaq, aku Ismail, aku Ya’qub, aku Yusuf, aku Musa, aku Daud, aku Isa, dan aku adalah penjelmaan sempurna dari Nabi Muhammad saw, yakni aku adalah Muhammad dan Ahmad sebagai refleksi”. (Haqiqatul Wahyi, h. 72). (Majalah Sinar Islam (terbitan Ahmadiyah) edisi 1 Nopember 1985).

MGA juga mengkafirkan orang-orang yang tidak beriman kepadanya; “Seseorang yang tidak beriman kepadaku, ia tidak beriman kepada Allah dan RasulNya. (Haqiqat ul-Wahyi, hal. 163). Juga perkataannya, “Sikap orang yang sampai dakwahku kepadanya tapi ia tak mau beriman kepadaku, maka ia kafir. (S.k. al-Fazal, 15 Januari 1935)

Bro en sis, Jemaah Ahmadiyah jelas-jelas mengkafirkan kaum muslimin. Basyiruddin, adik Mirza Ghulam Ahmad, berkata: Di Lucknow, seseorang menemuiku dan bertanya: “Seperti tersiar di kalangan orang ramai, betulkah Anda mengafirkan kaum Muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah?” Kujawab: “Tak syak lagi, kami memang telah mengafirkan kalian!” Mendengar jawabanku, orang tadi terkejut dan tercengang keheranan (Anwar Khilafat, h. 92)

Ucapannya lagi: “Barangsiapa mengingkari Ghulam Ahmad sebagai nabi dan rasul Allah, sesungguhnya ia telah kufur kepada nash Quran. Kami mengafirkan kaum Muslimin karena mereka membeda-bedakan para rasul, mempercayai sebagian dan mengingkari sebagian lainnya. Jadi, mereka itu kuffar!” (S.k. al-Fazal, 26 Juni 1922)

Dan Basyir Ahmad menegaskan lagi “Setiap orang yang beriman kepada Muhammad tapi tidak beriman kepada Ghulam Ahmad, dia kafir, kafir, tak diragukan lagi kekafirannya” (Review of Religions, No. 35; Vol. XIV, h. 110)

Nah lho, kalo ternyata udah mengaku sebagai nabi, bahkan mengkafirkan orang lain yang nggak mengimaninya, apa itu nggak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunnah? Kalo begitu, kyai-kyai yang kemarin ngebelain Ahmadiyah dari mana mereka punya alasan, ya? Jangan-jangan mereka juga kena dibohongin jamaah Ahmadiyah.

Guyz, makanya kamu kudu prihatin deh, kenapa aliran sesat itu dibiarkan tumbuh subur di tanah air. Malah jamaah Ahmadiyah ini diistimewakan oleh pemerintah. Khalifah IV Ahmadiyah di London, Thahir Ahmad pernah diundang ke Indonesia di masa reformasi. Kedatangannya atas prakarsa seorang cendekiawan muslim Indonesia. Waktu itu Khalifah IV ini disambut dan dipeluk oleh Ketua MPR yang juga tokoh reformasi kala itu.

Beragama, bebas?

Barangkali, susahnya memberantas aliran sesat seperti Ahmadiyah dikarenakan hari ini ada orang berteriak-teriak soal kebebasan berkeyakinan dan beragama. Menurut para pendukungnya, hal itu merupakan hak asasi manusia. Nggak boleh dipaksa atau dilarang. Udah mutlak kudu dijamin.

Pertanyaannya, apa iya kebebasan beragama juga berarti bebas untuk ngacak-ngacak agama? Kalo soal bebas memilih agama, sebenarnya udah nggak aneh dalam ajaran Islam. Agama kita emang nggak memaksakan manusia untuk masuk ke dalam agama Islam. Kamu pastinya udah apal betul dengan ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).”(QS al-Baqarah: 256). Ayat itu adalah garansi bahwa setiap insan nggak akan dipaksa memeluk agama Islam. Bo’ong banget kalo dikatakan bahwa Islam itu dipaksakan, apalagi dengan jalan kekerasan.

But, buat orang yang udah berada dalam agama Islam, nggak ada pilihan lain kecuali tunduk pada Islam. Allah Ta’ala berfirman;

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguhnya ucapan orang-orang beriman jika diseru kepada Allah dan RasulNya untuk berhukum di antara mereka adalah ‘kami mendengar dan kami taat’,” (QS an-Nuur [24]: 51)

Juga firmanNya (yang artinya):”Dan tidak pantas bagi orang beriman laki-laki dan orang beriman perempuan jika Allah dan RasulNya telah menetapkan satu keputusan, ada pilihan bagi mereka.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

So, apa pantes seorang muslim menolak shalat lima waktu? Nggak puasa Ramadlan? Apalagi sampai mengacak-acak ajaran Islam, seperti ngaku-ngaku jadi nabi, jadi malaikat, dll. Untung aja nggak sampai ngaku jadi pocong atau kuntilanak. Halah!

Pada kenyataannya, nggak bakal ada umat beragama – agama manapun — yang rela ajarannya diacak-acak. Umat Kristiani, misalnya, pasti akan marah kalo jumlah tuhannya ditambah atau dikurangi. Atau Injil yang mereka pakai disebut bukan kitab suci, atau dianggap kurang. Atau lagi jika salibnya diubah, atau patung Yesus pada salib itu diganti dengan patung orang lain, pastinya mereka juga tidak terima bahkan marah. Betul nggak?

Ketika novel The Da Vinci Code karya Dan Brown keluar, banyak pastur dan tokoh Kristiani yang marah. Novel itu dianggap bisa merusak keyakinan umat Kristiani. Kemudian sejumlah buku dirilis oleh kalangan Kristiani untuk menyelamatkan keyakinan mereka. Maklum, dalam novel yang kemudian difilmkan oleh Tom Hanks, dikisahkan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Padahal umat Kristiani percaya bahwa Yesus tidak menikah, apalagi Maria Magdalena dikenal sebagai seorang pelacur.

Begitu pula dengan agama-agama lainnya pasti umat mereka nggak bakal terima dan marah jika ajarannya diacak-acak. Umat Hindu misalnya pernah memprotes sampul novel Supernova karya Dewi Lestari karena membawa-bawa simbol agama mereka. Penyanyi Iwan Fals juga pernah berurusan dengan pengikut agama Hindu dalam kasus yang sama pada sampul kasetnya Manusia Setengah Dewa.

Jadi, kayaknya kebebasan beragama yang menjurus pada pengacauan agama atau penodaan agama, nggak bakal diterima oleh umat manusia. Lagian apa mau umat beragama saling menukar ajaran ibadahnya? Misalnya umat Kristiani kudu wajib shalat Jumat dan puasa Ramadlan sebulan penuh, atau orang Islam kalo meninggal jangan dikubur tapi dibakar dalam upacara Ngaben, dsb. Kayaknya nggak bakal ada yang rela tuh.

Lalu gimana dong kebebasan beragama yang sekarang lagi dikampanyekan? Wah, itu mah kampanye untuk menyudutkan Islam. Karena orang-orang yang berteriak kebebasan beragama selalu ngebelain Ahmadiyah, dan nyalahin kaum muslimin yang anti Ahmadiyah. Padahal udah jelas banget kalo jamaah Ahmadiyah itu ngerusak ajaran Islam.

Kalangan penyeru kebebasan beragama seperti AKKB juga sering menghina ajaran Islam. Guntur Romli, salah seorang aktivis AKKBB yang kena gebug FPI di Monas kemarin, dalam sebuah tulisannya di Jurnal Perempuan pernah memutarbalikkan ayat-ayat al-Quran untuk menghalalkan homoseksual dan lesbian. Ia juga pernah menulis di sebuah koran ibu kota kalau al-Quran itu hasil contekan dari kitab-kitab sebelumnya. Waduh, buruan tobat Mas!

Parahnya lagi, keberadaan mereka itu tak lebih dari perpanjangan tangan kaum imperialis Amerika Serikat. Ketika umat Islam di tanah air menuntut pembubaran Ahmadiyah, negara-negara Barat justru menekan pemerintah khususnya Departemen Agama agar tidak membubarkannya. Negara-negara itu adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia dan Inggris. Catet itu!

Sikap kita

Buat kita, udah jelas kalo beragama itu ada pedomannya. Nggak bisa kita berkeyakinan dan beribadah semau-maunya. Ngawur aja kalo orang bilang beragama itu bebas. Kalo begitu bisa-bisa orang bikin agama sendiri, nabi sendiri, kitab suci sendiri, bahkan punya tuhan sendiri (iiih).

Maka, semangat bebas dalam beragama itu nggak sejalan dengan ajaran Islam. Setiap muslim kudu taat en patuh pada syariat Islam dan berpegang pada akidah Islam. Kalo terjadi penyimpangan maka pelakunya kudu bertobat.

Terakhir, umat Islam kudu jernih ngelihat persoalan ini. Jangan gara-gara pemberitaan di televisi, majalah, koran en internet, kemudian kamu jadi bersimpati pada orang-orang yang menyuarakan kebebasan beragama. Padahal mereka tengah menyiapkan perangkap untuk merusak ajaran Islam. Ditambah lagi mereka punya misi untuk mempertahankan ajaran sesat Ahmadiyah.

Sayangnya, banyak orang Islam nggak nyadar. Mereka malah sibuk menyalahkan sesama muslim, lupa dengan masalah penodaan agama oleh Ahmadiyah. Sudah begitu, lebih rela berantem dengan ‘saudara sendiri’ ketimbang melawan musuh yang sesungguhnya. Lihat aja banyak kaum muslimin yang malah pada minta supaya FPI dibubarkan, bukannya ngelarang Ahmadiyah. Ah, kasihan umat Islam. Sudahlah agamanya dirusak, masih mau juga diadu domba. Hmm....

Ingin Jadi Cowok Keren ???

Ngomongin soal cowok keren (bukan cowok kran lho, emang-nya tukang ledeng) ini jadi demenannya kaum hawa ter-utama remaja putri. Mereka pasti punya krite-ria masing-masing untuk uru-san cowok keren. Mulai dari gaya busana, penampilan, wajah, prestasi, pekerjaan, mobil, hoby, sampe isi dompet semua ada standarnya. Walhasil cowok-cowok �Meteor Garden' personil F4, �Westlife' atau �Element' yang punya tampang kece bin cute mewakili karakter cowok keren yang banyak digandrungi remaja putri. Ehm.. ehm.. kayaknya ada yang mo ngaku neh. Hehehe..

Tapi bukan berarti urusan cowok keren cuma buat kaum hawa aja. Anak cowok juga mau nggak mau kudu terlibat. Soalnya mereka yang jadi �OP' alias obyek penderita. Malah ada juga anak cowok yang hobi nyari bocoran tipe cowok-cowok keren yang diminati anak putri. Biar bisa menyesuaikan. Kan lumayan kalo setiap penampilannya mengundang decak kagum dari gadis pujaan hatinya. Sampai bela-belain ngutang atau minjem produk Nike, GAP, Levi's, Lea, Tommy, atau Diesel biar asyik dipake mejeng. Kasihan banget tuh, mejeng tapi dapet minjem. Hihihi..


Tapi, sebenernya kayak gimana sih cowok keren itu? Kalo butuh modal gede, kasihan banget bangsanya Boim atau Gusur sohibnya Lupus yang secara finansial, fisik dan fenam-pilannya serba cekak itu. Daripada pusing, mending baca terus. Tariik maang�.!

Gaya hidup metropolis

Gaya hidup metropolis kian kental dalam nuansa tayangan sinetron televisi negeri ini. Sebuah gaya hidup yang penganutnya doyan memanjakan kenikmatan hidup daripada pusing mikirin arti hidup itu sendiri. Lebih suka gaya daripada makna. Kiranya gaya hidup seperti inilah yang coba diungkap sinetron terbaru produksi Multivision Plus bertajuk� Cowok-Cowok Keren � (CCK). Dibintangi Mark Peter, Okan Cornelius, Teuku Zacky, en Randy Bragi, yang nongol setiap senin malam di RCTI.

CCK mengisahkan ulah nakal alias petualangan seks empat eksekutif muda kota metropolitan. Seolah memvisualisasikan isi buku best seller Moammar Emka yang menguak sisi gelap kehidupan malam kota metropolis melalui � Jakarta Undercover -nya�. Di sepanjang tayangan, hadir perempuan-perempuan yang ditampilkan berlenggak-lenggok dengan pakaian minim, sok-sok manja dan menggoda. Bahkan dalam salah satu episode, ditampilkan adegan pertandingan catur yang bersyarat siapa pun yang kehilangan buah catur harus melepaskan pakaian satu per satu. Dan salah satu pemainnya yang perempuan, sebelum pertandingan berakhir, ia sudah harus mananggalkan semua pakaiannya! Parah banget kan?

Otomatis CCK ini langsung menuai kritik super pedas dari pengamat media Ade Armando dalam kolom resonansi harian Republika tanggal 18 Oktober 2003. Beliau mengungkapkan, CCK yang beliau kasih gelar tayangan yang buruk luar biasa ini diputar pada jam tayang keluarga dengan rating BO alias Bimbingan Orang-tua. Dengan kata lain RCTI mempersembahkan acara ini kepada penonton semua umur, meski dengan peringa-tan: �'... para orang tua harap mendampingi anak-anak.... '' lho? Padahal keme-suman merajalela di sinetron ini. Setiap pekan pemirsa televisi disuguhi adegan berlangsungnya semacam pesta seks. Ada karakter yang digambarkan sebagai �'ber-ganti-ganti pasangan tidur'', memiliki kebiasaan men-yimpan celana dalam pasangannya, dan yang bicara dengan terbuka, �'Seks ada di malam hari; karena itu wanita hanya menggairahkan di malam hari.''

Menurut pihak RCTI, jika dilihat kehidupan eksekutif muda metropolitan saat ini, cerita tersebut memang banyak benarnya. Cerita tentang kehidupan eksekutif muda Jakarta dengan gaya hidup hedonis dan pergaulan seks yang bebas selama ini memang menjadi suatu kenyataan yang selalu ditutup-tutupi. �Tidak salah jika ada pihak yang memprotes sinetron ini. Semua orang memiliki cara berpikir dan nilai yang berbeda-beda. �Ini masalah subyektivitas, semua orang bebas berpendapat,� demikian jelas Mita, humas RCTI ketika dihubungi detikcom, Jumat siang ( 26/9/2003 ). �Tetapi, selama keputusan akhir belum tercapai kami masih menayangkan baik program maupun promonya,� tambah Lala Hamid, Direktur Program RCTI. Nah lho!

Rupanya gelombang protes yang dilayangkan dari Aliansi Masyarakat Anti Pornografi dan Pornoaksi (AMAPP) atau kritikan pedas Ade Armando hanya membuahkan promosi gratis. Dan tentu dengan menayangkannya beberapa pekan di jam utama, RCTI berharap sudah ada cukup banyak fans CCK yang nantinya akan bersedia menonton sinetron favoritnya ini bila jam tayangnya dipindahkan menjadi lebih malam. Kalau memang ini alasan mereka, keliatan banget kan kapitalisnya. Demi uang, sering kali media informasi bermetamorfosis menjadi media dekadensi moral. Menyedihkan!

Cowok keren versi hedonis

Penayangan sinetron CCK �seperti penayangan sinetron yang lainnya� makin menggiring masyarakat ke arah budaya hedonis dan permissive yang berasal dari orang kafir Barat. Budaya hedonis menyeret masyarakat ke dalam kehi-dupan yang hanya mengejar kesenangan duniawi semata. Sehingga berkembang peri-laku keserba-bolehan ( permis-sive ) dalam berbuat dan berpikir demi meraih predikat konglo-merat yang hidup serba �wah' dan mampu menyalurkan hawa nafsunya di mana saja kapan saja. Iih�kayak ayam jago aja!

Selain gaya hidup mewah yang identik dengan gaya hidup metropolis, kaum hedonis juga punya standar sendiri dalam menilai manusia. Mereka menilai derajat manusia berdasarkan penampilan fisik dengan segala aksesorisnya semata. Seperti yang digam-barkan dalam sinetron CCK itu. Kaum hedonis seolah mengelompokkan cowok ke dalam dua kategori, with �N' or without �N'. Cowok with �N' artinya cowok keren. Yang selalu punya nilai lebih dalam berpenampilan. Sementara cowok without �N' berarti cowok kere alias cowok yang nilainya minus semua dalam berpenampilan. Yang ngerasa harap sabar ya. Gubrak!

Penampilan bagi kaum hedonis wajib modis. Biar dapet gelar cowok keren atau cewek kece. Lihat aja, iklan produk minyak rambut, fashion, farfum, sepatu, mobil, sampai rokok selalu disejajarkan dengan julukan cowok keren. Kebayang, orang yang terkena wabah hedonis ini bakal repot ngelakoninnya. Soalnya butuh modal gede. Parahnya banyak remaja sekarang yang masih disubsidi penuh ama ortunya mulai terjangkiti wabah hedonis. Meski kantong cekak, penampilan tetep kudu enak. Nggak mau tahu, pokoknya orangtua kudu siap mensuplai segala kebutuhannya dalam berpenampilan. Kalo perlu pake aksi merengek, tutup mulut, atau banting pintu.

Padahal pepatah bilang � don't judge the book by its cover �. Artinya, jangan beli buku kalo nggak ada kovernya�hehehe� keliru dink. Yang bener, jangan pernah menilai orang dari penampilan luarnya. Suer . Belum tentu cowok-cowok keren itu tingkah lakunya sekeren tampangnya. Banyak cowok-cowok keren dalam bis kota or gerbong kereta yang punya tampang eye catching . Dipadukan dengan setelan �esmud'. Potongan rambut sampai sepatu klimis abis. Tapi hobinya ngambil dompet or HP orang tanpa permisi. Dasar copet!

Selain penampilan dan gaya hidup, cowok keren juga kudu punya fisik yang oke. Standarnya; wajah handsome , berjenggot, no jerawat dengan dagu lancip belah tengah. Nggak cuma itu, kaum hedonis juga memfokuskan perhatiannya ama fisik cowok keren dari sisi sex appeal (daya tarik seksual)�nya. Karena bagi mereka, hubungan pria dan wanita nggak punya nilai lebih selain untuk pemuasan syahwat semata. Cewek-cowok berlomba-lomba me-nonjolkan lekuk tubuhnya yang punya daya tarik seksual. Yang cowok jadi penghuni fitness centre biar badannya kekar, dadanya bidang, otot-ototnya juga pada nonjol. Sementara yang cewek pada pake baju full pressed body . Lontong aja kalah ketat.

Sobat muda muslim, kayaknya kita kudu makin hati-hati dengan beredarnya para �pengemban dakwah' hedonis yang menjelma sebagai selebritis dengan gaya hidup metropolis. Kemuliaan seseorang hanya dinilai dari penampilan fisik dan gaya hidup. Padahal itu semua cuma sementara doang dan bisa bikin kita kecele di akhirat nanti. Karena Allah swt. cuma menilai keterikatan kita ama hukum-Nya selama di dunia yang punya nilai plus. Bukan penampilan fisik atau aksesoris, seperti yang dipahami kaum hedonis. Yo'i kan?

Cowok keren versi Islam

Nggak sedikit lho, orang menilai remaja muslim selalu masuk kategori cowok without �N'. Apalagi sampai diidentikkan dengan peci, sarung, dan baju koko yang jadi aksesoris kebangsaannya. Memang ada yang kayak gitu, tapi nggak semuanya. Kayaknya keterlaluan banget deh kalo remaja muslim masih menilai orang dari penampilannya doang. Padahal Rasulullah dalam salah satu hadisnya menerangkan bahwa Allah swt. tidak melihat kemuliaan seseorang itu dari wajah, pakaian, atau penampilan dengan segala aksesisnya. Melainkan dari hati dan ketakwaannya. firman Allah swt.:

�Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.� ( QS. al-Hujur�t [49]: 13 )

Tapi Don't worried , Islam nggak melarang remaja muslim untuk berpenampilan oke. Karena Allah juga menyukai keindahan selama masih dalam koridor aturan-Nya. Tapi boleh bukan berarti harus. Jadi remaja muslim juga kudu pintar dan sholeh. Pintar dalam arti mampu menjadikan Islam sebagai standar dalam berpikir dan berbuat. Ini bisa diperoleh kalo kita nggak alergi dengan pengajian wawasan Islam yang lagi marak di bulan suci ini. Dengan modal itu, kita bisa menjadi anak yang sholeh. Dan semuanya bukan omong kosong. Para sahabat Rasulullah saw juga banyak yang masuk kategori remaja muslim idaman.

Contohnya Mushab bin Umair. Seorang remaja muslim yang jadi duta pertama guna membuka dakwah pertama kalinya di Madinah. Dia dibesarkan di tengah keluarga quraisy terkemuka. Wajahnya tampan, hidupnya mewah, serba kecukupan, dan selalu menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan. Wajar aja kalo dia menjadi buah bibir gadis-gadis Mekkah. Dia memang keren, Tao Ming Tse aja kalah. Tapi lebih keren lagi ketika dia meninggalkan kehidupannya yang luks agar bisa memeluk Islam. Sampai Rasulullah saw. berkata: � Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. �

Selain Mushab, ada sahabat Ali bin Abi Thalib r. a. Beliau termasuk salah satu khulafaur Rasyidin. Di usianya yang sangat muda (8 tahun) dia sudah masuk Islam. Bahkan berani menghadapi bahaya dengan menggantikan posisi tidur Rasulullah saw. yang akan dibunuh orang-orang kafir saat peristiwa hijrah. Dan masih banyak sahabat Rasulullah saw. yang layak disebut remaja muslim idaman.

Sobat muda muslim, jadi remaja muslim idaman itu gampang aja kok. Nggak perlu repot-repot jadi keren atau beken. Yang penting sholeh, berilmu, dan bertakwa. Caranya, mengkaji Islam dan menerapkannya dalam keseharian. Dan kita siap dengan resiko yang bakal dihadapi. Menukar kesenangan duniawi dengan kemuliaan di hadapan Allah. Dan satu lagi, jangan geer kalo efek sampingnya nanti bakal diuber-uber para akhwat. Makanya kalo pinjem uang, jangan lupa balikin. Hehehe..

Sekarang udah tahu kan siapa cowok keren itu? Yang pasti bukan versi hedonis dong. Tapi remaja muslim idaman umat dan... efek sampingnya, jadi idaman para akhwat. Setuju? (pembaca ngangguk-ngangguk) Nah, gitu dong.

Nah, biar oke juga, mari kita perdalam Islam dengan penuh semangat. Nggak boleh males-malesan, apalagi males beneran

Cerdas !!! Tak Hanya Di Atas Kertas

Conan Edogawa, detektif cilik nan imut yang hidup dalam dunia fiksi ini dikenal karena kejeniusannya dalam mengungkap kasus-kasus pembunuhan. Karakter yang sama juga terdapat pada Chinmi. Jago kungfu asal Kuil Dairin ini juga mampu menarik minat pembaca komik �Kungfu Boy' dengan kecerdasannya dalam mempelajari jurus kungfu yang diuraikan seilmiah mungkin. Dua tokoh fiksi ini memang hidup di dunia komik. Tapi kecerdasannya digilai para penggemarnya di dunia nyata. Jangan-jangan, kamu salah satu fans mereka. Ayo ngaku! (maksa nih ceritanya)

Yup, jadi orang cerdas emang impian. Di sekolah, cerdas identik dengan popularitas. Siswa cerdas pasti tidak akan luput dari perhatian guru dan pihak sekolah. Soalnya siswa model gini jadi aset berharga untuk mengharumkan nama baik sekolah dengan ukiran prestasinya. Meski tampangnya nggak ada bakat fotogenik, temen-temennya sering SKSD alias Sok Kenal Sok Dekat . Selidik punya selidik, ternyata contekan PR menjadi penyebab utama kedekatan temen-temennya itu. Walah?


Tapi cerdas kayak gimana? Ini yang jadi soal. Sebab saat ini, kebanyakan orang menganggap kecerdasan selalu berkaitan dengan intelektual, langganan juara kelas, atau jago ngerjain soal-soal rumit pelajaran Fisika, Matematika, Kimia, atau Biologi. Seolah nggak ada parameter pemaaf, penyabar, empati, suka menolong, suka ngingetin, atau aktivis dakwah pada diri siswa cerdas. Kalo pun ada siswa cerdas yang punya sifat-sifat di atas plus bersuara vokal, hmm....boro-boro dilirik, kayaknya nggak diciduk ama pihak sekolah aja udah untung. Glodaks!

Temukan: Cerdas rasa baru

Untuk mengukur kecerdasan seseorang, biasanya pihak sekolah, militer, atau tempat kerja pake hasil karya Alfred Binet (1857-1911) yang kita kenal dengan istilah IQ alias Intelegencia Quotient (Kecerdasan Intelektual). Tingkat kecerdasan seseorang dinilai berdasarkan skor yang diperolehnya dari jawaban atas soal-soal seputar nalar dan logika untuk mengetes kemampuan intelektualnya.

Akan tetapi, para ahli merasa terlalu sederhana ngukur kecerdasan hanya didasarkan pada nalar, matematika, dan logika yang diterjemahkan dalam nilai IQ. Hal inilah yang mendorong para ilmuwan Eropa merumuskan standar baru untuk menilai kecerdasan seseorang. Maka lahirlah istilah EQ dan SQ yang bersahabat erat dengan IQ. Apaan tuh?

Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intelligence (1994) menyatakan bahwa �kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh serumpun faktor-faktor yang disebut Kecerdasan Emosional�. Penjelasannya, kalo IQ mengangkat fungsi pikiran, maka EQ mengangkat fungsi perasaan. Orang yang ber-EQ tinggi akan berupaya mensinergikan intelektualnya dengan perasaannya yang manusiawi. Biar nggak jadi sombong bin angkuh van jutek.

Danah Zohar, penggagas istilah teknis SQ (Kecerdasan Spiritual) menuturkan kalo IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi �pusat-diri' ( Danah Zohar & Ian Marshall: SQ the ultimate intelligence : 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber � SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Tolong catet ya.

Nah sobat, inilah rumusan cerdas rasa baru yang lagi �in�. Kita nggak perlu minder meski IQ kita jongkok atau malah tiarap. Kita tetep bisa tergolong orang cerdas dengan mengedepankan EQ dan menonjolkan SQ dalam keseharian kita. Caranya nggak cuma rajin ngikut kursus atau training yang berkaitan dengan itu, kuatkan juga keinginan kita untuk mengenal Islam lebih dalam. Sebab di sanalah bermuara segala kecerdasan baik intelektual, emosional, maupun spiritual. Beneran lho!

Menjadi cerdas dengan Islam

Menurut Leonardo Da Vinci, kebanyakan manusia menganggurkan anugerah akal yang dimilikinya. Punya mata hanya untuk melihat tetapi tidak untuk memperhatikan, punya perasaan hanya untuk merasakan tetapi tidak untuk menyadari, atau punya telinga hanya untuk mendengar tetapi tidak untuk mendengarkan. Rugi amat ya?

Kondisi ini yang tidak dianjurkan oleh Islam terhadap umatnya. Justru Islam memerintahkan manusia untuk menghargai akalnya. Salah satunya dengan menggunakan akal dalam mengimani keberadaan al-Khalik, Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah, dan keotentikan al-Quran sebagai kalamullah (ucapan Allah). Agar akidah Islam tidak dibangun atas dasar taklid alias asal ngikut.

Saking pentingnya aktivitas berfikir, para shahabat sampe mengaitkannya dengan keimanan. Mereka berkata: �Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir� ( Ad-Durrul Mantsur , Jilid II, Hlm. 409). Otomatis hal ini mendorong kaum Muslimin untuk mempelajari, memahami, dan mempraktikkan ilmu-ilmu yang mereka tuntut. Baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian sudah seharusnya kecerdasan intelektual dimiliki oleh setiap muslim.

Kecerdasan Emosional boleh dibilang kembaran dengan pembinaan nafsiyah (pola sikap) yang diajarkan Rasulullah saw. Untuk melembutkan perasaan, beliau mengajarkan kita sikap rendah hati, pemalu, atau qonaah . Agar kita nggak merasa angkuh ketika diberi kelebihan atau minder ketika kekurangan. Dalam bersosialisasi, beliau mencontohkan sikap empati, simpati, saling menolong, saling menasihati, saling mengingatkan, atau saling memaafkan dalam rangka menjalin persaudaraan. Sehingga kita nggak mudah melecehkan orang lain karena perbedaaan status ekonomi, pendidikan, atau sosial. Tingginya EQ bagi seorang muslim berarti memiliki akhlakul karimah dan menjadi pengemban dakwah.

Dan terakhir, kecerdasan spiritual (SQ) berarti kesadaran akan pengawasan Allah Swt. dan malaikat Raqib-Atid. Kesadaran ini tidak hanya sebuah wacana. Melainkan sebuah kekuatan yang memotivasinya untuk beramal. Melebihi motivasi yang dilahirkan dari materi, harta, popularitas, gengsi, atau kepintaran. Sebab SQ bagi seorang muslim terkait dengan hari penghisaban yang akan dijalaninya kelak di hari akhirat. Allah Swt. befirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS al-Isr� [17]: 36)

Sobat, semoga uraian di atas ngasih kamu pencerahan tentang kecerdasan dalam Islam yang khas dengan memasukkan unsur SQ dalam IQ dan EQ. Sebab cuma orang sekuler yang memisahkan kecerdasan intelektual atau kecerdasan emosional yang terpisah dari muatan spiritual. Sehingga kita bisa rumuskan kecerdasan bagi seorang muslim berarti perpaduan antara ISQ dan ESQ. Akur dong? Siip lah! Pokoknya lanjut terus bacanya!

Produk perpaduan ISQ dan ESQ

Sobat, perpaduan ISQ dan ESQ pada masa kejayaan Islam, turut mendorong ilmuwan muslim untuk menghasilkan karya ilmiah yang tercatat dalam tinta emas perkembangan ilmu pengetahuan dunia.

Di antara mereka adalah Ibnu Khaldun. Dunia mengenalnya sebagai seorang ilmuwan muslim yang gape dalam bidang sosiologi dan ilmu sejarah. Nama lengkapnya Abu Said Abd Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al Hadrami al Ishbili. Beliau populer berkat sebuah buku master piece -nya berjudul �Muqaddimah� (Pendahulan) yang mengupas tuntas mengenai filsafat sejarah dan sosiologi. Di dalamnya, beliau menggambarkan tanda-tanda kemunduran Islam dan jatuh bangunnya kekhalifahan melalui pengalamannya selama mengembara ke Andalusia dan Afrika utara.

Ada juga Ibnu Haitham. Dialah bapak ilmu optik yang mengurai bagaimana kerja mata �mencerna' penampakan suatu obyek. Nama lengkap ilmuwan ini Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Publik Barat mengenalnya sebagai Alhazen. Penelitiannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Walaupun menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan.

Sobat, Ibnu Khaldun dan Ibnu Haitham adalah dua dari sekian banyak ilmuwan Islam yang layak kita teladani. Kegigihan mereka menuntut ilmu dan ketekunan mereka berkarya, mencerminkan tingginya motivasi ruhiyah yang tergabung dalam intelektual dan emosional mereka. Ipteknya jago, akhlaknya yahud, kecerdasan spiritualnya juga oke punya.

Melahirkan generasi �Multi Cerdas'

Pada akhirnya, kita patut prihatin dengan kurikulum pendidikan negeri kita yang berbasis sekuler. Bisanya cuma menggenjot pelajarnya untuk meningkatkan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional siswa lambat laun terkikis dengan ditanamkannya materi atau prestasi sebagai tujuan akhir dalam mencari ilmu. Adapun kecerdasan spiritual siswa, nasibnya cukup mengenaskan. Dua jam pelajaran agama dalam seminggu lebih terlihat sebagai formalitas bin pelengkap. Parahnya, muatan pelajaran agamanya juga cuma �ngobrolin' seputar ibadah atau bersuci yang nilainya tidak lebih dari hapalan sebelum ulangan dibanding sebuah pemahaman untuk dipraktikkan. Masa' mau kayak gini terus?

Bener sobat, kudu ada upaya teknis dan sistemik untuk membenahi sistem pendidikan negeri kita agar dapat melahirkan generasi �multi cerdas�. Generasi unggulan yang mampu berbicara tidak hanya dalam sains teknologi, tapi juga dalam sikap serta kesadarannya sebagai seorang muslim. Secara teknis, pendidikan yang memadai sangat diperlukan untuk menggali potensi para pelajar dari sisi intelektual. Terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang proses belajar mengajar. Seperti keberadaan laboratorium dengan alat dan bahan praktikum yang lengkap bin komplit.

Untuk mengatasi dekadensi moral yang masuk via media massa cetak dan elektronik, sudah sepantasnya pihak sekolah mengajarkan Islam secara utuh. Tidak membelah ilmu jadi umum dan agama. Agar terpompa kesadaran siswa akan kebesaran al-Khalik saat menekuni ilmu sains teknologi. Sekaligus, menanamkan sikap akhlakul karimah yang membentengi mereka dari pengaruh buruk lingkungan.

Secara sitemik, tentu kita tidak akan berpaling dari peran negara yang besar untuk mewujudkannya. Saatnya negara menyadari kekeliruannya karena telah menjadikan sekularisme sebagai asas dalam membangun sistem pendidikan negeri kita. Lalu menggantinya dengan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan kepada kecerdasan intelektual saja. Akan tetapi mulai menghargai kecerdasan lainnya. Dan sebagai patokan dari semua itu: cuma ISLAM standarnya. Yang lain? Lewaaat

Menata Waktu, Menuai Sukses

Siapa sih yang nggak kenal waktu? Pasti nggak ada. Anak kecil aja tahu. Makanya waktu dikenal tiap orang. Apa pun makanannya, eh profesi atawa kerjaan kita, pasti waktu ikut ngerecokin.

Bagi redaksi waktu berarti deadline yang bisa bikin kepala redaktur berasap ngejar naskah biar kelar. Buat kaum pekerja, biasanya mereka inget waktu pas mo pulang, libur nasional, ama tanggal gajian. Nah, kalo yang statusnya pelajar atawa mahasiswa, waktu identik dengan SKS alias Sistem Kebut Semalam ngerjain tugas. Bentuk waktu yang abstrak nggak bikin doi tiada arti. Bagi yang bisa menghargainya, kesuksesan bakal didapet. Sementara bagi yang suka ngacangin doi, tahu sendiri akibatnya. Under pressure euy!

Sayangnya, waktu lebih sering berstatus kambing hitam dari pada dewa penolong. Kalo kerjaan belon kelar atawa tugas sekolah ngaret beresnya, pasti deh waktu yang disalahin. Mepetlah. Terlalu pendeklah. Atawa nggak ada waktu luang. Kasian deh sang waktu. Kebagian apes mulu. Nah, biar nggak nyalahin waktu mulu, nggak ada ruginya dong kalo kita bahas tentang waktu. Biar hidup kita lebih bermutu!


Remaja dan waktu

Pinggir jalan menjadi lokasi yang paling banyak digandrungi anak muda buat ngumpul. Kalo nggak percaya boleh tanya Sony Tulung (deuuu....). Selain tanpa ongkos, bisa cuci mata, dan sekalian test vokal bermodalkan gitar pinjeman plus galon air mineral yang dipaksa jadi gendang. Kali aja ada produser yang lewat, terus tertarik ama vokalnya. Kan lumayan buat dubbing film Charlie Chaplin tuh! Huhuy!

Kian hari, kegiatan nongkrong seperti di atas kian banyak peminatnya. Tiada waktu dan tempat strategis yang steril dari anak nongkrong. Pagi-pagi mereka udah nongkrong di toilet. Berangkat sekolah udah mangkal di halte atau pinggir jalan nungguin angkot. Waktu istirahat sekolah yang cuma seperapat jam juga nggak boleh lolos dari aksi mejeng di kantin. Di mana pun, kapan pun, always mejeng en main-main. He..he..he..

Pulang sekolah giliran mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang kudu rela ditongkrongin mereka. Sampe rumah langsung deh betah nongkrongin Nirina atau Arie di MTV. Malemnya giliran La Liga , Lega Calcio , Liga Inggris Premiere atau Bundesliga yang ditongkrongin. Kalo perlu ampe dini hari. Wuiih�segitunya.

Besoknya, meski jam beker yang diset pukul 5 pagi ampe serak berteriak ngeba-ngunin, eh, bangun pukul 7 teng. Padahal masuk sekolah 7.15. Akhirnya waktu yang cuma lima belas menit itu dipake buat gosok gigi, cuci muka, cuci baju, eh cuci tangan trus cabut. Boro-boro mikirin sholat atawa sarapan.

Sampai di kelas pelajaran pertama udah dimulai. Pas ditanya pak guru kenapa datang telat? Jawabnya: �abis�waktu masuknya sih pak kependekan. Coba masuknya pukul delapan-an gitu, pasti deh nggak kesiangan.� Nah lho? Udah waktu luangnya dicuekkin, eh giliran kena batunya, waktu juga yang disalahin. Walah?

Sobat muda muslim, fenomena di atas cuma salah satu contoh dari sekian banyak kegiatan yang sering kita kerjain tapi miskin manfaat. Kita selalu ada waktu untuk bermain, ngeceng, �no-mat' di twenty one , atau untuk window shopping di pusat perbelanjaan. Tapi kita sering ngerasa berat ngasih waktu kita meski sejenak untuk belajar, berdakwah, hadir di penga-jian, atau membantu orang tua di rumah. Acara malem mingguan udah disiapin seminggu sebelumnya. Se-mentara untuk ngerjain tugas sekolah atau beribadah kudu nunggu sampe waktu mepet. Alasannya sibuk. Sebenernya, kita nggak punya waktu luang atau nggak mau meluangkan waktu? Hayoo�!

Pasti kita udah pernah ngerasain gimana sengsaranya ngerjain tugas dikejar-kejar waktu. Budaya SKS seolah udah mendarah daging. Begadang sampe larut ditemani sebungkus Star Mild , segelas Nescafe , dan hentakan musik Superman is Dead yang memecah keheningan malam. Malah kita ngerasa bangga dan hebat dengan hasil kerja kita yang digeber semaleman. Karena waktu luang kita abis buat maen. Padahal kita juga yang rugi. Payah deh!

Waktu bagi seorang Muslim

Sobat muda muslim, udah dari sononya sang waktu akan terus berjalan bagaikan awan. Kadang kita suka bilang kalo waktu berlalu begitu cepat saat kita lagi happy . Baru kemaren naek kelas, eh, sekarang udah siap ngadepin ujian semester. Baru minggu kemaren kita gajian, minggu berikutnya udah siap-siap kasbon. Kita juga sering bilang kalo waktu jalannya lelet abis pas kita lagi sedih. Berlarut-larut dalam kesedihan. Padahal, itu semua cuma perasaan kita aja. Asli. Kalo nggak per-caya, coba aja perhatiin. Sampe kiamat pun, satu hari akan tetep 24 jam, 1440 menit, 86400 detik. Meski kita lagi sedih atau happy . Bener nggak seh?

Waktu yang udah kelewat pasti nggak bisa balik lagi. Meski udah di- undo beberapa kali (emangnya program Windows? ). Di mana aja kita cari, waktu yang hilang nggak ada gantinya. Karena itulah waktu menjadi sangat ber-harga buat kita. Lebih berharga dari harta ter-mahal yang kita punya. Kita kudu pandai-pandai menjaga dan meman-faatkannya. Jangan sampe nasi keburu menjadi bubur terus pancinya kesenggol kucing dan tumpah di lantai dapur yang kotor. Rugi banget kan?

Makanya Rasulullah saw. ngingetin kita melalui sabdanya: �Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.� (HR Bukhari)

Banyak yang bisa kita kerjain untuk memanfaatkan waktu. Saking banyaknya kadang kita bingung mana dulu yang musti diutamain. Sebagai seorang muslim, tentu kegiatan yang kaya manfaat dunia akhirat kudu jadi prioritas. Mumpung masih muda yang full tenaga en menggelora semangatnya. Supaya tiap hari ada peningkatan amal ibadah kita. Ini bisa kita dapetin kalo kita mau terus belajar. Baik wawa-san Islam atau pun ilmu umum. Isi hari-hari kita dengan berlomba-lomba dalam kebaikan ( fasthabiqul khairat ).

Nah, untuk urusan belajar dan fasthabiqul khairat , jangan sampe ditunda-tunda. Sebisa mungkin dikerjain sekarang, jangan tunggu besok. Karena kita nggak akan tahu apa yang bakal terjadi esok hari. Bisa jadi kita sakit atau pas jadwalnya �didatengin' malaikat Ijrail. Wah?

Belajar dari para ulama

Waktu adalah sohib terbaik yang bakal nganterin kita menuju kesuksesan kalo kita bisa menghargainya. Dalam buku berjudul � Nilai Waktu �, sang penulis, Abdul Fattah Abu Ghuddah memaparkan kisah sukses para ulama Shalaf dan Khalaf yang menghargai waktu.

Bagi mereka, nggak ada yang lebih berharga dibandingkan waktu. Seperti dalam kisah Muhammad bin Salam, guru dari Imam Bukhari. Suatu kali ia asyik mendengar pelajaran dari gurunya, tiba-tiba pensil yang lagi dipake patah. Kontan ia langsung teriak �siapa yang menjual pensil, aku akan membayarnya seharga satu dinar (mata uang berbentuk koin seberat 4,25 gr emas)!� Kalo diitung-itung, misal harga 1 gr emas = Rp 80 ribu, doi berani bayar Rp 340 ribu untuk sebuah pensil biar nggak ketinggalan pelajaran.

Mereka juga benci dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Malah Imam Syafi'i mengatakan orang yang kayak gitu, matinya lebih baik daripada hidupnya. Karena orang itu telah melewatkan peluang emas untuk ber-ibadah dan menabung pahala. Kalo gitu, apa bedanya dengan orang mati yang nggak punya kesempatan lagi buat nabung pahala? Catet!

Nggak heran kalo Ibnu Taimiyah sampe minta seseorang untuk membacakan kitab dengan suara keras. Agar dia bisa men-dengarnya dan nggak ada ilmu yang kelewat ketika dia sedang di dalam kamar mandi!

Saking tingginya penghargaan mereka terhadap waktu, diki-sahkan bahwa para ulama itu membiasakan sedikit makan dan tidur. Karena banyak makan bakal bikin ngantuk. Dan kalo udah ngantuk, pasti bawaannya males ngapa-ngapain. Apalagi untuk belajar. Pengennya tidur mulu. Padahal banyak tidur, menurut al-Qadhi Iyadh, merupakan ciri orang yang lemah dan nggak mau peduli ama urusan dunia akhirat. EGP banget tuh!

Sobat muda muslim, nggak salah kalo kisah para ulama itu banyak ngasih kita pelajaran berharga tentang waktu. Terbukti, penghargaan mereka terhadap waktu turut menjadikannya ulama terkemuka di dunia Islam. Nggak heran pula kalo mereka mampu menelorkan karya-karya yang spektakuler. Ambil contoh, tafsir buah tangan Abu Bakar Ibn al-Arabi berjudul Anwarul Fajr yang tebalnya sampe 80.000 halaman. T-O-P B-G-T deh!

Bikin hidup lebih bermutu

Kebayang nggak sih berapa banyak waktu yang udah kita sia-siakan sampe sekarang? Udah gitu, minim pula dari kegiatan untuk dunia dan akhirat. Padahal berapa banyak ilmu yang bakal kita dapet. Keterampilan yang bisa kita pelajari. Atau tabungan pahala yang dicicil tiap hari. Kalo kita sempatkan waktu untuk baca buku, mengulang pelajaran di sekolah, belajar komputer, bantu orang tua, ikut pengajian, puasa sunat, shalat sunat, atau berdakwah? Banyak buanget manfaatnya!

Nah, kalo kita pengen sukses, udah saatnya kita pake waktu yang Allah kasih sebaik-baiknya. Sebelum gigi kita pada ompong, kulit kita pada keriput, usia kita kian lanjut, dan ajal datang men-jemput. Mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Mulai mengenali bidang yang pengen kita geluti lebih jauh. Jangan biarkan kegiatan bikin tulisan, memasak, menjahit, ngoprek komputer, atau ngotak-ngotik motor cuma jadi hobi. Berikan waktu khusus dalam hidup kita untuk mempelajarinya. Percaya nggak percaya, di masa depan itu banyak membantu kita.

Tapi jangan sampe kelupaan ama tugas kita untuk beribadah kepada Allah ya? Kita bisa menabung pahala dengan selalu mengikuti aturanNya. Semakin kita dekat denganNya, semakin sayang Allah ama kita. Itu artinya, Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat kita.

Karena itu, biasakanlah untuk meng-ingatnya di waktu-waktu luang kita. Saat istirahat sekolah pagi, bisa kita isi dengan shalat dhuha. Terbangun di malam hari dilan-jutkan dengan shalat tahajjud . Lengkapi juga dengan tilawah Quran ba'da maghrib dan shubuh. Nggak cuma beribadah ritual aja, kita juga kudu mengenali ajaranNya lebih dalam dengan ikut pengajian. Ditambah memberani-kan untuk mendakwahkannya kepada orang lain.

Oke deh, sekarang kita tinggal memu-lainya. Berlomba mengukir prestasi dunia dan akhirat. Meskipun waktu kita hanya sesaat. Insya Allah itu akan mendatangkan manfaat. Yakin deh, orang-orang yang telah sukses juga punya jumlah waktu yang sama ama kita. Seminggu 7 hari dan sehari 24 jam. Nggak lebih en nggak kurang. Pas. Karena itu berusahalah dan tetap semangat

Islam Bukan Cuma Nasyid

Nama-nama Raihan, Saujana, Hijjaz , atau Brothers makin familier di telinga kita. Lagu-lagu nasyidnya itu lho yang bikin kita kesengsem. Lembut, syahdu, dan kalem. Bisa menghanyutkan kita dalam mengingat Allah atau bermuhasabah (tapi bukan sebagai pengantar tidur lho). Kaset dan CD-nya juga gampang diperoleh di toko-toko kaset. Apalagi di bulan suci ini. Dijamin bejibun. Abis laku keras sih. Malah ada juga kompilasi MP3-nya yang bajakan dan dijual eceran di kaki lima. Itu juga kalo nggak keburu digerebek ama aparat. Hehehe�

Nggak cuma didengerin, nasyid mulai banyak dilantunkan oleh remaja muslim. Buat mereka yang lagi kasmaran kontan hapal Teman Sejati -nya Brothers. Ehm, buat yang lagi berkobar semangat Islamnya langsung melalap semua lagu dalam album Kembali -nya Izzatul Islam. Mereka yang merasa ideologis juga ikutan berhip-hop nyanyiin tembang-tembang Soldiers of Allah . Atau yang lagi belajar bahasa arab berpartisipasi dengan Hadad Alwi dan Sulis dalam Cinta Rasul . Bang Toyyiiib �. Bang Toyyiiib . Eh maaf, salah muter kaset. Harusnya: Ya Thoyyibaah �. ya thoyyibaah �. (Hihihi)



Biasanya anak-anak rohis atau primus alias pria mushola keranjingan bikin group nasyid. Selain untuk menggiatkan syiar Islam, bisa juga sebagai media penyaluran bakat bermusik. Booming grup-grup nasyid baru pun tak terbendung. Apalagi sekarang banyak digelar festival nasyid. Semuanya pada pengen unjuk gigi. Mentang-mentang pake pepsodent (ini iklan ya?). Syukur-syukur bisa masuk dapur rekaman. Kan lumayan. Daripada masuk dapur restoran. Entar disuruh cuci piring lagi. Hehehe�.

Dan kini nasyid makin dianggap spesial dan jadi komoditi bisnis. Buktinya sampai dibikin festival dan konser segala. Ditayangin di layar kaca lagi. Kayak Festival Nasyid Indonesia (FNI) dan Nasyid Tausyiah dan Qiraah (NTQ) yang lagi jadi pembicaraan hangat.

FNI yang dilaunching 23 Juni 2004 silam kini memasuki babak final dengan 10 group yang berhasil lolos audisi. Para finalis ini akan menjalani masa karantina dengan sistem pesantren. Di sini mereka bakal dapetin pembekalan dari segi musikal, performance, siraman rohani, dan pengembangan diri. Indosiar menyiarkan kegiatan mereka setiap hari selama Ramadhan dari tanggal 15 Oktober hingga 12 November 2004. Setiap minggunya akan ada dua grup yang akan tereliminasi, hingga tersisa empat grup yang akan bertemu di grand final 12 November mendatang.

Sekadar tahu aja, modal untuk menggelar FNI itu cukup gede lho, ongkos produksinya dari mulai penginapan peserta festival (di Raffles Hill, yang pernah dipake peserta AFI 1-3), hingga ditayangkan di layar kaca, kata Manajer Nondrama Indosiar, Jufipriyanto, sekitar Rp 1 Miliar. (Koran Tempo, 17 Oktober 2004)

Sementara TV7 nggak mau kalah dengan menghadirkan NTQ dari tanggal 7 Oktober hingga 4 November 2004. Festival yang satu ini agak laen. Selain menuntut kemampuan munsyid (penyanyi nasyid) untuk menunjukkan harmonisasi olah vokal ( nasyid ), salah seorang munsyid dalam grup masing-masing juga dituntut untuk dapat menunjukkan kemampuannya melantunkan ayat suci al-Quran ( qiraah ) dengan benar serta menginterpretasikannya dengan baik ( tausyiah ). Biar para finalis nggak cuma bisa nyanyi, tapi juga nyelipin tausyiah atau qira'ah dalam aksi panggungnya. Jangan-jangan ini kaderisasi ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama. Hehehe...

Seni Islam di negeri kita

Seni Islam yang berwujud tembang-tembang religius emang bukan barang baru di negeri kita. Jaman bonyok (bokap-nyokap) kita, masyarakat kenal seni Islam terbatas pada musik qasidah atau irama gambus. Dengan iringan alat musik kepret (tabuh/pukul) semacam rebana atau ketimpring (kecrekan), jenis musik ini dianugerahi julukan �band kepret'. Meski begitu, lagu Perdamaian , Indung-indung , atau Jilbab-jilbab Putih masih populer di kalangan guru-guru Agama Islam setingkat SD. Bener lho!

Sayangnya, personel qasidah ini yang biasanya akhwat suka ikut joget bin goyang pinggul ngikutin irama gambus yang mepet-mepet dangdut. Malah seringkali mereka tampil ber-tabarruj (menampakkan kecantikan tubuhnya). Polesan lipstik di bibir dan sapuan make up di wajah yang terkesan menor. Jelas perpaduan ini jadi keliatan norak dengan balutan busana muslimah yang menjaga kehormatannya. Terus alunan musiknya juga terdengar monoton binti kaku. Otomatis lambat laun qasidah atau irama gambus ini kian terkubur di telan perkembangan musik pop. Wassalam deh!

Tahun 70-an, musik religius mulai mendapatkan tempat lagi di hati para penggemar musik. Adalah Bimbo Cs yang mengenalkan musik pop berlirik religius. Kelompok asal Bandung itu telah menggarap lagu seperti Tuhan , Rindu Rasul , sampai Anak Bertanya pada Bapaknya yang terbukti menjadi lagu sepanjang masa.

Suasana musik religius makin kondusif dengan hadirnya nasyid. Terutama setelah muncul kelompok vokal Raihan dari Malaysia yang turut mempopulerkan nasyid yang ngepop dan easy listening sekitar tahun 1996. Tak lama kemudian, grup nasyid asal Malaysia pun membanjiri Indonesia. Sebut saja Rabbani, Hijjaz, Brothers, In-Team , atau The Zikr dan masih banyak lagi.

Grup nasyid domestik yang mengemas lirik religius dengan pendekatan pop juga kian berkibar. Ada Senandung Nasyid dan Dakwah alias Snada, Suara Persaudaraan, Izzatul Islam, ar-Ruhul Jadid, atau Shoutul Harakah . Oya, Ruhul Jadid dan Izzatul Islam terkenal sebagai grup nasyid yang mengobarkan semangat juang. Aseli semangat banget tuh!

Sejak saat itu, popularitas nasyid kian booming . Bagi remaja muslim, nasyid udah jadi bagian dari keseharian mereka. Gimana nggak, dengan variasi jenis musik, nasyid kini mampu mewakili budaya remaja yang beragam. Semua aliran musik mampu diselami grup-grup nasyid baru. Dari yang nge-pop, mars yang menggugah semangat, melankolis, sampe yang rap bin hip-hop. Tinggal milih sesuai selera. Makanya nggak usah kaget kalo kita nemuin temen kita tengah komat-kamit kayak dukun baca mantra. Kali aja doi lagi nge-rap Staring Into Kafirs Eyes -nya Soldiers of Allah (SOA). Huhuy!

Jangan terlena alunan nada

Sobat muda muslim, bukan aib kalo kita jatuh cintrong ama nasyid-nasyid yang kian trend. Saking kesengsemnya, winamp di komputer penulis nggak mau berhenti muterin lagu-lagu dari Hawari, BMP, Bijak, Nada Murni, Saujana, atau The Fikr sambil bikin tulisan ini. Tapi kita juga nggak pengen nasyid bikin kita terlena. Idih, emangnya Ikke Nurjannah? Wacks!

Sobat muda muslim, tentu kita semua udah tahu kalo hukum bernyanyi itu mubah. Karena pada masa Rasul banyak shahabat yang hobi nyanyi atau sekadar bersenandung sepengetahuan beliau. Dan beliau mendiamkannya ( taqrir ). Seperti yang dikerjakan Salman al-Farisi saat menggali parit ketika akan menghadapi perang Khandaq. Bahkan Rasul sendiri mengangkat seorang shahabat ahli syair bernama Hasan bin Tsabit. Doi bertugas mengobarkan semangat kaum Muslimin di medan pertempuran dengan syair-syairnya yang heroik plus energik.

Dan sudah sepatutnya kemubahan itu tetap pada tempatnya alias nggak ngotak-ngatik aktivitas lain yang hukumnya wajib atau sunnah. Ada kekhawatiran pada ajang festival nasyid seperti yang digeber FNI atau NTQ. Kenapa?

Mengingat banyaknya porsi waktu, pikiran, tenaga, dan harta yang dialokasikan dalam pagelaran festival yang makan waktu cukup lama ini bisa bikin lalai dari kewajiban untuk berdakwah, mengkaji Islam secara intensif, atau mengoreksi kebijakan penguasa yang mendzhalimi rakyat. Panitia sibuk nyiapin perlengkapan, akomodasi, sampe monitoring perkembangan peserta saban hari. Pesertanya juga nggak kalah sibuk latihan biar penampilan mereka di atas panggung tidak mengecewakan.

Lagian kalo kita bercermin pada perilaku keseharian Rasulullah dan para sahabat, waktu mereka lebih banyak dialokasikan untuk beribadah, menyebarkan pemahaman Islam, berjihad, dan sesekali bercengkrama dengan keluarga. Ini berarti sedikit sekali waktu yang diberikan untuk mencari hiburan, termasuk bernyanyi-nyanyi. Catet tuh!

Selain itu, kehadiran FNI atau NTQ berbarengan dengan tren ajang pencarian bakat sekuler kayak AFI, Indonesian Idol, atau KDI. Seolah festival itu digelar sebagai ajang tandingan. Moga-moga nggak ya. Afwan, bukannya kita mau ngerecokin. Cuma was-was aja dengan format acara itu yang dikemas seperti AFI dkk yang kental dengan alam kapitalis bin komersil. Jangan sampe deh nasyider jadi kayak seleb pada umumnya: haus popularitas, pujian, jadi sumber penghasilan, serta bergaya glamour. Bahkan nggak mau manggung kalo bayarannya rendah. Walah!

Yang lebih parah, kalo niat ikhlas untuk berdakwah via jalur nasyid lambat laun bermetamorfosis menjadi riya'. Masa' sih? Asli. Bayangin aja, pas di atas panggung. Benih-benih takabbur dan riya' mulai mencari mangsa. Tepukan tangan yang gemuruh, pujian serta histeria pendengar bisa menenggelamkan akal sehat dan melambungkan perasaan kita. Rasullah saw. bersabda: �Siapa yang memperdengarkan amalnya kepada lain orang, maka Allah memalukannya di hari kiamat, dan barang siapa yang memperlihatkan amalnya kepada orang, Allah membalas riya'nya itu.� (HR Bukhari, Muslim)

Kalo sudah begini, apa mungkin jebolan FNI atau NTQ itu bisa seperti Hasan bin Tsabit? Mungkinkah akan muncul generasi Salman al-Farisi? Atau jangan-jangan malah berkeliaran versi islamnya Very atau Sutha AFI? Walah, seleb islami kali yee (hehehe).

Budaya bukan yang utama

Sobat, kita bersyukur banget dengan antusias semua lapisan masyarakat terhadap seni Islam. Setidaknya mulai tumbuh kecintaan terhadap Islam. Sekaligus mampu meng- kick balik seni-seni jahiliah bin sekuler yang meraja lela. Tapi tentu kita nggak merasa cukup dengan kegembiraan ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peran nasyid atau munsyid yang berdakwah di jalur seni suara, kita kudu nyadar kalo Islam isinya bukan cuma budaya. Bener. Budaya cuma bagian kecil aja.

Belum pas rasanya kalo kita jadikan tren nasyid sebagai parameter kebangkitan Islam. Sebab kebangkitan itu hanya akan diraih dengan adanya perubahan pemikiran dan perilaku umat ke arah yang lebih baik. Dan Rasulullah nggak ngasih contoh kalo perubahan itu bisa diraih dengan bersenandung. Tapi dengan pembinaan akidah, syariat, dan dakwah secara intensif. Pokoknya digeber iman, ilmu dan amalnya untuk perjuangan membela Islam.

Karena itu, boleh aja kita dengerin nasyid dikala jenuh binti bete atau bikin grup nasyid untuk sekadar penyaluran bakat. Anggap aja sebagai penyemangat dan penghibur perjuangan. Tapi inget, di luar sana umat yang tengah dijajah sistem sekuler sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk bangkit.

Kalo pengen menghidupkan Islam, Islam itu ideologi, bukan budaya. Sehingga, jika ingin menghidupkan Islam, maka harus difokuskan perjuangannya kepada kampanye penerapan syariat Islam sebagai ideologi negara. Seni, musik, dan sejenisnya adalah bagian kecil saja dalam khasanah ideologi Islam. Kalo ideologi Islam udah diterapkan dalam bingkai negara, maka insya Allah nyanyian pasti akan bercitarasa Islam. Bahkan bukan cuma nyanyian, segala aspek kehidupan pasti akan berlandaskan ideologi Islam. Yakin itu.

Sobat muda muslim, yang dibutuhkan Islam saat ini adalah keseriusan dalam berdakwah menegakkan Khilafah. Jangan sampe nasyid menjadi senjata dari musuh-musuh Islam untuk melenakan kita. Karena kita menganggap bahwa dengan maraknya seni Islam, Islam akan bangkit. Nggak lha yauw! Kita harus berjuang, dan tanpa perlu menjadikan nasyid sebagai senjata utama! (nasyid mah pelengkap aja deh!). Akur dong?

Ayo, Jadi Remaja SIAGA !!!

Kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Maka, waspadalah! � kita pasti apal banget dengan ajian sakti Bang Napi ini. Ungkapan yang pas banget untuk ngegambarin kondisi sekitar kita. Lingkungan kian tidak bersahabat dengan para penghuninya. Rasa aman serasa sulit diperoleh. Tayangan kriminalitas yang terjadi saban hari. Seluruh stasiun televisi secara demonstratif menampilkan tindakan hero para aparat keamanan meringkus penjahat. Bukannya kita nggak suka liat aksi unjuk gigi para petugas keamanan, tapi efek beritanya itu lho yang bikin kita ngeri. Kriminalitas nggak kenal waktu, tempat, plus nggak pilih-pilih korban. Ada yang mau daftar? Nggak dong.

Sobat muda muslim, selain kriminalitas, ada yang lebih berbahaya dan patut kita waspadai. Lebih seram dari yang dikhawatirkan Bang Napi. Bahkan bisa memakan korban dengan nggak pandang usia. Dari balita sampai yang udah tua. Parahnya lagi, dia pandai menyamar bak punya seribu wajah. Dunia anak-anak, ABG, sampai orang dewasa pun dengan mudah disusupi olehnya. Pokoknya, kita kudu ngeh dengan yang satu ini. Pengen tahu siapa dia, kita tanya�.Galileo. Dan Galileo bilang: � Tetep panteng nih tulisan. Atau kamu akan rugi tujuh turunan�� hehehe�


Bahaya terselubung di sekitar kita

Kita nggak bermaksud nakut-nakutin kamu tanpa alasan jelas. Kita cuma ngingetin bahwa nggak hanya bahaya fisik yang kudu kita waspadai. Tapi bahaya nonfisik juga nggak kalah dahsyatnya dan jangan sampe kecolongan. Karena bahaya ini nggak bisa dideteksi apalagi ketahuan bentuknya. Pokoknya abstrak banget. Seabstrak kamar kostan anak remaja cowok. Ditambah tim sekelas Gegana pun nggak mampu menjinakkannya. Pemikiran dan budaya dari luar itulah yang kita maksud bahaya nonfisik. Jangan mengernyitkan dahi dulu ya?

Sobat muda muslim, era globalisasi bikin dunia terasa sempit. Sesempit rumah masa depan yang berbatu nisan. Setiap informasi dan budaya Barat gampang banget didapet. Bahkan nggak sedikit dari remaja muslim yang ambil bagian menjadi pengembannya. Akibat-nya, nilai-nilai budaya timur yang dulu sangat diagungkan lambat laun terkikis. Para wanita tak malu mengumbar auratnya. Remaja saling berlomba meraih kebebasannya. Dan orang tua pun melupakan �pekerjaan rumah'-nya.

Jadi nggak salah kalo kita bilang lingkungan kita termasuk dangerous zone jika kita tak pandai mengambil langkah. Media audio visual dan media cetak menjadi tim sukses penyebaran budaya Barat di negeri ini. Budaya Barat inilah yang mampu menghipnotis remaja muslim sehingga melupakan jati dirinya sebagai hamba Allah. Bentuknya bisa macem-macem. Yang pasti selalu menawarkan kesenangan, keceriaan, popularitas, dan segala macam sifat yang digandrungi remaja.

Tapi jangan salah lho, pengaruh negatif budaya Barat ini juga tengah mengincar adik-adik kita. Hari kamis, 11/09/03 lalu, detikhot menurunkan berita seputar pelarangan boneka barbie di Arab. Karena boneka ini erat sekali dengan citra kaum Yahudi yang numpang hidup dan gak tahu malu di bumi Palestina. Ditambah, banyak anak putri muslimah di Arab yang meminta dibelikan baju seksi dan bikini seperti yang sering dipakai boneka barbie . Dan jika tidak segera dicegah, bukan tidak mungkin adik perempuan kita akan menolak pakaian muslimah yang wajib mereka pakai.

Selain boneka barbie , tayangan film kartun imajinatif juga ada bahaya tersendiri. Film seperti digimon, pokemon, atau doraemon akan menggiring adik-adik kita hidup di dunia khayal. Seolah setiap masalah pasti bisa diselesaikan dengan bantuan makhluk-makhluk aneh bin ajaib yang jadi teman mereka. Bisa-bisa entar pengen punya baling-baling bambu atau beternak pikachu!

Dunia remaja sudah menjadi sasaran empuk budaya Barat. Gaya rambut, cara berpakaian, gaul bebas alias pacaran menjadi kental dalam kehidupan remaja. Popularitas atawa kecantikan fisik seolah menjadi takaran dalam menilai harga diri dan identitas. Makanya nggak sedikit remaja yang rela menggadaikan auratnya, mentato badannya, atawa mengecat rambutnya biar bisa diterima dalam komunitasnya. Ih, malu-maluin tuh!

Selain upaya pencarian identitas, keingintahuan remaja tentang seks memancing mereka untuk dapetin info dari buku, internet, atau vcd porno yang mudah diperoleh di emperan toko. Karena orang tua juga remaja merasa tabu kalo ngomongin tentang seks satu sama lain. Padahal itu sangat berperan dalam mengarahkan remaja kepada jalan yang benar dan diridhoi Allah. Jangan sampai kakak atau adik perempuan kita termasuk bagian dari hasil penelitan yang dilakukan Pusat Studi Hukum Universitas Islam Indonesia (PSH UII) baru-baru ini. Dari 202 responden remaja (15-25 tahun), sekitar 15% nya mengaku pernah melakukan hubungan seks. Mereka mengaku sebelumnya terpengaruh oleh tayangan pornografi baik melalui internet, VCD, TV, atau bacaan porno. ( eramuslim, 09/09/03 ).

Lain padang, lain ilalang. Lain remaja, lain juga orang dewasa. Di tengah himpitan ekonomi yang kian memburuk, orang dewasa banyak yang tak mampu berpikir jernih untuk mengatasi masalahnya. Otot lebih berperan dibanding otak. Nggak gentle kalo masalah diselesaikan dengan musyawarah. Karena itu acara Buser, Patroli, Sergap, Tangkap, Kriminal Pagi , atau Investigasi nggak pernah sepi dari berita tindak kejahatan yang pelakunya didominasi kalangan dewasa atau orang tua.

Acara ghibah- taintment atau mistik- taintment juga nggak terlepas dari pengaruh budaya Barat. Kita jadi terbiasa ngegosip sampai mulut kita berbusa. Bahkan tayangan seputar mistik bisa bikin kaum muslimin menduakan Sang Pencipta alias jadi musyrik . Telenovela yang mengajarkan ide emansipasi yang salah kaprah pun lambat laun mengikis ketaatan ibu rumah tangga kepada suami. Seolah mereka pun punya hak untuk menceraikan suaminya. Walah!

Kapitaslime biang kerusakan

Maraknya pornografi, meningkatnya kenakalan remaja, atau tumbuh suburnya para pelaku kejahatan sangat dipengaruhi oleh pemahaman tentang hidup yang mereka jadikan standar tingkah polahnya. Inilah akibat nyata pengaruh negatif budaya Barat. Banyak di antara kita yang menempatkan agama sebagai tempat berpulang ketika dirundung masalah atau berhubungan dengan jenazah. Seolah agama nggak bakal bisa ngatur hidup kita. Sok tahu banget kan?

Bisa dibayangin, ketika agama dipisahkan dengan kehidupan, orang akan menilai baik buruknya perbuatan mereka berdasarkan hawa nafsu. Semuanya distandarkan dengan manfaat yang diperoleh. Tanpa peduli dengan penilaian orang. Jadi nggak aneh kalo ada remaja putri yang berprofesi sebagai penari �striptease' organ tunggal karena dibayar. Atau Avi Basuki sang model video klip �Posesif'-nya Naif yang tertangkap basah waktu lagi menjajakan barang dagangannya berupa lintingan ganja. Its all about the money !

Selain pengaruh budaya Barat, negara juga ikut terlibat dalam mendesain kerusakan lingkungan sekitar kita. Negara yang punya wewenang paling tinggi buat mengatur urusan rakyatnya malah bikin rakyat sengsara. Utang luar negeri yang bejibun dibebankan kepada rakyat. Mulai dari pengurangan subsidi sampai privatisasi sumber daya air semuanya bikin rakyat merana.

Kapitalisme memotivasi rakyat untuk menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Orang terpaksa harus merelakan dirinya diperbudak oleh harta. Hukum rimba pun diberlakukan di tengah masyarakat. Yang terkuat dialah yang menjadi raja. Itu sebabnya nggak heran bahwa bahaya tengah mengancam kita dan keluarga. Karena itu akan tetap lestari selama sistem kapitalis nan sekuler masih bercokol di negeri ini. Asli. Nggak bo'ong. Suer!

Jaga diri dan keluarga

Sobat muda muslim, sekarang kita udah tahu penyebab rusaknya lingkungan sekitar kita. Bukan cuma karena polusi tapi juga karena pemikiran dan Budaya barat yang udah jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Kini saatnya kita membentengi diri kita dari pengaruh buruk lingkungan. Caranya? Gampang. Perdalam Islam alias ngaji. Belajar boo!

Yup. Nggak salah langkah kamu kalo memulai dengan ikut pengajian. Hanya Islam yang dipahami sebagai aturan hidup yang bisa memelihara keislaman kita. Bukan cuma dipahami sebatas ibadah. Ajaran Islam yang agung mampu mengatasi setiap permasalahan hidup yang kita hadapi. Jaminannya, kita akan bahagia dunia akhirat kalo tetep �jalan bareng' dengan aturan Islam. Percaya deh.

Selain ikut pengajian, keberadaan teman pun sangat diperlukan. Karena teman yang baik akan banyak membantu kita melewati masa-masa sulit ketika istiqomah di tengah keterasingan lingkungan kita dengan Islam. Teman pula yang akan mengobarkan semangat kita untuk berlomba dalam kebaikan. Dan mengingatkan kita jika berbuat kelalaian. Maka amat beruntunglah jika kita punya sohib deket. Dalam suka dan duka, susah dan senang, semua dilewati bersama. Jadi inget lagunya Brothers�. hehehehe

Selain menata diri, jangan sampai kita melupakan keluarga. Merekalah orang yang terdekat dengan kita. Sudah seharusnya mereka pulalah yang pertama memahami dan membantu kita untuk tetep istiqomah. Kewajiban seorang muslim untuk saling mengingatkan, saling menasehati juga berlaku untuk keluarga kita. Dan pasti kita nggak pengen keluarga kita rusak dan jadi bahan bakar api neraka karena budaya Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam. Allah Ta'ala berfirman:

�Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka�� ( QS. at-Tahr�m [66]: 6 )

�Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat� ( QS. asy-Syu'ara [26]: 214 )

Hal yang sama juga dilakukan oleh Rasulullah saw. Setelah turun (QS Asy-Syu'ara [26]: 214) Rasul segera mengumpulkan sanak kerabatnya sampai dua kali. Beliau bersabda: ��Demi Allah yang tidak ada iIah selain Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum. Demi Allah kalian benar-benar akan mati layaknya sedang tidur nyenyak dan akan dibangkitkan lagi layaknya bangun dari tidur. Kalian benar-benar akan dihisab terhadap apa pun yang kalian perbuat, lalu di sana ada surga yang abadi dan neraka yang abadi pula.�

Nah, sobat muda muslim, mari kita selamatkan diri dan keluarga kita. Jangan ragu bin segan untuk mendakwahkan Islam kepada keluarga. Kalo kita yakin dengan kebenaran Islam, mari kita sampaikan langsung kepada mereka. Kita jalin komunikasi yang sehat dengan sanak kerabat. Apa pun reaksi yang muncul, kita kudu siap menerimanya. Meski keluarga belum setuju, usaha tetep melaju. Karena Bani Hasyim, keluarga Rasulullah pun banyak yang menolak ajakan Rasul. Tak terkecuali pamannya, Abu Thalib. Meski Rasulullah terus berusaha mengajak pamannya yang menjadi pelindung dakwahnya untuk bersyahadat, tapi sampai menjelang ajalnya, Abu Thalib tetap dengan keyakinannya. Rasulullah bersedih. Turunlah firman Allah swt:

�Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.� ( QS. al-Qashash [28]: 56 )

So, mari kita jadi remaja SIAGA: Siap Ajak Keluarga untuk mau taat pada ajaran Islam. Setuju? Kudu! Gejlig.

Kita Lawan Israel Yuk !!!

Israel, negeri penjajah Palestina itu, kayaknya udah nyiapin segalanya sebelum penyerangan ke Libanon pada 12 Juli 2006 lalu. Sampe tulisan ini dibuat, 25 Juli 2006, korban perang itu telah mengoleksi angka hampir 400 orang yang tewas (dan catat: kebanyakan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak).

Tujuan Israel menyerbu Libanon, sebenarnya buat menumpas kelompok Hizbullah pimpinan Syekh Hassan Nasrallah yang bercokol di Libanon. Emang sih, Hizbullah ini kerap bikin repot Israel, terutama sejak kelompok ini berdiri pasca serangan Israel ke Libanon pada Juni 1982 silam. Tapi, apa pantas Israel menghujani Libanon dengan bom dan rudal-rudalnya cuma buat nangkepin anggota Hizbullah yang udah menculik dua serdadu Israel? Kok kayaknya nggak abis pikir deh kalo alasannya cuma itu. Israel kan punya Mossad, juga punya Sayeret Matkal, dinas rahasia Israel yang konon terlatih itu. Bikin aja operasi intelijen buat membebaskan dua serdadunya yang diculik. Tul nggak seh?



Sobat, tentu alasan itu kayaknya cuma kedok aja. Karena tujuan utamanya adalah membungkam dan membekukan kegiatan militer Hizbullah. Selain itu, Israel juga berupaya membangun opini di mata masyarakat Libanon (bahkan mungkin dunia), bahwa kalo mereka berani membiarkan Hizbullah terus bercokol di sana, kesengsaraanlah yang bakalan didapat bagi warga Beirut.

Buktinya, Israel kini sudah menggelar operasi militer di darat. Mereka menjebol perbatasan Libanon dan merangsek ke dalam kota. Sebelumnya cuma berani lewat udara atau melontarkan rudal-rudal yang menghanguskan sebagian kota Beirut dan membunuh ratusan penghuninya.

Israel di bawah kepemimpinan Ehud Olmert memang kacau banget. Sama seperti pendahulunya yang kini tak berdaya dihajar penyakit, Ariel Sharon. Mereka memang keras sikapnya terhadap Palestina dan Libanon.

So, kalo diperhatiin dengan seksama, Israel tuh sebenarnya ketakutan banget dengan kekuatan Hamas dan Hizbullah. Maka, dengan dalih membebaskan seorang tentara Israel yang diculik sekelompok anak muda yang tergabung dalam Izzuddin al-Qasam--sayap militernya Hamas--mereka membombardir kawasan Gaza. Begitu pula dengan Hizbullah, Israel ngeri betul gimana merepotkannya Hizbullah yang memang memiliki senjata dan terlatih, apalagi udah masuk parlemen Libanon. Artinya mereka direstui pemerintah setempat.

Prediksinya, Israel kelihatannya akan terus menggempur Libanon. Jika ini yang dilakukan, maka bukan tak mungkin akan menyeret Suriah, negara tetangga Libanon, yang juga sering merepotkan Israel. “Jika Israel menginvasi masuk ke Libanon, mereka bisa mencapai daerah yang berjarak 20 kilometer dari Damaskus,” kata Menteri Informasi Suriah Moshen Bilal kepada harian berbahasa Spanyol, ABC.

“Apa yang bakal kami lakukan? Berdiam diri dengan senjata di tangan? Jelas tidak. Suriah bakal masuk dalam konflik ini,” Bilal menegaskan.
Kalo Suriah terlibat, maka sudah bisa dipastikan Iran--sebagai “kawan dekat”--Suriah akan ikutan melibatkan diri. Sementara di pihak Israel, Amerika pasti nggak bakalan cengo’ aja kayak orang keder. Minimal bakalan ngasih support Israel dengan peralatan militer canggihnya. Jika ini yang terjadi, seru abis!

Tapi kalo dipikir-pikir, Israel tuh memang wajib dikasih pelajaran dan ditindak dengan tegas. Jangan dibiarin memelihara rasa belagunya karena ada dukungan dari Amrik. Seharusnya bukan cuma Hamas dan Hizbullah yang susah-payah menahan gempuran dan berusaha mempertahankan diri dari serangan Israel, tapi negeri-negeri seperti Suriah, Libanon, Iran, bahkan Kuwait, Arab Saudi, dan Turki serta Mesir seharusnya bisa membantu. Biar Israel tahu diri kalo keberadaannya di Timur Tengah sebenarnya bermasalah.

But, mimpi nggak sih kalo kita ngarepin semua pemimpin Timur Tengah bergabung dan bersatu padu untuk ngancurin Israel? Kalo kondisi pemimpinnya kayak sekarang: pengecut, penakut, dan bermental inlander—kita pikir, memang mimpi kalo bisa ngalahin Israel. Jadi, ayo pada bangun! Jangan bengong aja. Lagian masa’ sih kita tega diem aja ketika ada tetangga yang dihajar orang sampe babak belur? Padahal kita punya kekuatan untuk melawan si penghajar dan membantu korban. Ayo sadar diri!

Antara Yahudi dan Zionisme
Yahudi tuh sebenarnya terbagi dua kategori: sebagai etnis dan sebagai agama. Sebagai etnis, orang Yahudi nggak mesti beragama Yahudi. Ada juga yang beragama Islam. Sementara Yahudi sebagai agama, adalah seperti apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam al-Quran, misalnya selalu memerangi kaum Muslimin.

Sementara zionisme adalah sebuah gerakan politik yang digagas Theodor Herzl. Ia telah menyusun doktrinnya sejak 1882 di Wina dan memberinya bentuk yang sistemik pada 1896 di dalam bukunya mengenai “Negara Yahudi” (Der Judenstaat), dan mulai menerapkannya secara konkret dalam Kongres Zionis sedunia yang pertama di Bazel, Swiss pada 1897. Nah, ini sama bahayanya karena mereka bergerak di bidang politik dengan bertujuan mendirikan negara, dan ternyata memang berhasil. Ya, Israel itulah buktinya. Negara yang berdiri tahun 1948 setelah menjajah dan merampok negara Palestina.

Rasulullah saw., di awal masa pemerintahannya di Madinah, udah bikin perjanjian dengan kaum Yahudi di sana. Namun, Yahudi bani Nazhir, bani Qainuqa, dan bani Quraizhah membatalkan perjanjian tersebut. Nggak cuma itu, mereka bahkan menggalang kekuatan dengan kaum Quraisy dan Ghathfan untuk menyerang Nabi saw. dan kaum Muslimin. Perilaku Yahudi yang kayak gitu, membuat Rasulullah saw. marah lalu memerangi dan mengusir mereka seluruhnya dari Madinah.
Nah, perilaku Yahudi yang kini tergabung dalam zionisme Israel adalah sama aja dengan perilaku Yahudi di jaman dulu yang pernah bersekongkol untuk memerangi Nabi saw. dan kaum Muslimin. Allah menjelaskan dalam firmanNya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120)

Dalam ayat lain, Allah Swt. memberikan gambaran tentang Yahudi:
Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari al-Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka menghendaki kamu tersesat dari jalan (yang benar). (QS an-Nisa’ [4]: 44)

So, ati-ati dah dengan mereka. Jangan sampe mereka membuat kita berpaling dari Islam atau bahkan membuat kita membela mereka. Ih, amit-amit deh.

Israel nggak perlu ditakuti
Kalo ukurannya kekuatan militer, sebenarnya Israel tuh kalah jauh sama negeri-negeri Islam yang ada di kawasan tersebut. Dengan satu negara Suriah aja berimbang kok, kalo nggak mau disebut kalah. Misalnya, kekuatan pasukan darat, laut, dan udara. Israel punya 576.300 tentara (termasuk 408 ribu cadangan). Suriah memiliki 661.600 tentara (termasuk 354.500 cadangan).

Persenjataan? Bisa dibilang berimbang juga kok. Kapal perang Israel 18 biji (termasuk 3 kapal selam). Sementara Suriah 14 biji. Pesawat tempur (Israel 402, Suriah 632). Mungkin, jika Suriah jadi ikutan maka Israel bakalan dapat lawan seimbang ketimbang menggempur Hizbullah. Apalagi kalo seluruh kawasan Timur Tengah bersatu padu melawan Israel. Berdasarkan catatan Encarta Reference Libary Premium 2005 aja, kalo keempat negeri Muslim yang berdekatan wilayahnya dengan Israel seperti Turki, Mesir, Yordania dan Iran bergabung, maka jumlah tentara mereka sekitar 1,6 juta personel), hmm… bakalan jadi perkedel tuh negara zionis Israel! (atau minimal jadi tempe penyet!). So, nggak perlu takut kan melawan Israel? Seharusnya sih begitu. Tul nggak?

Sobat muda muslim, wilayah Israel tuh kecil. Itu pun hasil penjarahan dari Palestina. Seandainya seluruh kawasan Timur Tengah menghujani Israel dengan batu pun bakalan ketutup tuh wilayah kecil mereka dengan batu. Israel tuh menang gertak doang karena merasa ada dukungan dari Amrik sebagai sahabat sejatinya. Ditambah pula dengan kepengecutan sebagian besar penguasa negeri-negeri Timur Tengah, hasilnya Israel jadi belagu. Petantang-petenteng kayak preman kampung.

So, jangan merasa kecil di hadapan Israel. Apa kita diem aja melihat aksi mereka membantai kaum Muslimin di Palestina? Apa kita bengong terus menyaksikan Beirut terbakar? Memang, di Libanon itu nggak semuanya Muslim, tapi Israel jelas-jelas menyerang milisi Hizbullah dengan cara ngancurin kota dan tentu aja itu berakibat sebagian besar warga sipil Libanon ikutan jadi korban.

Bagi kita kaum Muslimin, nggak ada alasan untuk takut ngadepin Israel. Apalagi kaum Muslimin adalah umat yang mulia. Allah Swt. berfirman:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma‘ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS Ali Imran [3]: 110)

Dalam ayat di atas, Allah Swt. menegaskan dua perkara: Pertama, umat Mumammad saw., adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia. Artinya, kaum Muslim sejatinya menjadi umat terbaik dibandingkan dengan umat-umat lain di seluruh dunia. Sebab, kata frasa linnâs menunjukkan makna bagi seluruh manusia tanpa kecuali. Tolong dicatet ye.

Umat terbaik tentu bukanlah umat yang dijajah; yang pemimpinnya diciduk bahkan dibunuh, rakyatnya dibantai, kekayaannya dirampas, ekonominya dikuasai, perjanjiannya dikhianati, dan mereka dijadikan bulan-bulanan oleh umat lain. Apakah kita rela membiarkan saudara kita di Palestina dan Libanon dibantai Israel? Nggak rela banget deh.

Kedua, karakter sejati kaum Muslim adalah selalu melakukan amar makruf nahi mungkar; tidak hanya terhadap individu atau penguasa, tetapi juga terhadap negara-negara yang ada, terutama negara-negara besar yang merampas kekayaan mereka, yang membantai rakyat mereka, dan lain-lain. Jadi, ayo para penguasa negeri-negeri Muslim, kalian kudu berani melawan Israel dan Amerika. Jangan takut!

Sobat, untuk melawan Israel ama Amrik emang dibutuhkan kesatuan. Ngelawan Israel nggak cukup dilakukan Hamas dan Hizbullah, tapi seluruh umat Islam. Itu sebabnya, umat Islam perlu dan wajib memiliki kekuatan dan kekuasaan yang besar dan kuat, yang mampu menghentikan kejahatan negara besar macam Amerika. Tanpa kekuatan demikian, umat Islam cuma bisa bengong dan bingung sambil menyaksikan kejahatan musuh-musuhnya tanpa berani melawan. Hmm.. jangankan melawan Amrik, wong ngelawan Israel yang kecil aja kayaknya takut banget, gitu lho. Aduh, benar-benar mengenaskan!

Nah, sebagai catatan bahwa kedua karakter yang diberikan sebagai ciri umat Islam tersebut baru akan diraih dengan maksimal ketika umat Islam menerapkan syariat Islam dan menyatu sebagai satu tubuh di bawah kesatuan Khilafah Islamiyah. Jadi, tentu saja kita terus kampanyekan agar syariat Islam ini bukan sebagai spirit aja, tapi formal alias diterapkan sebagai ideologi negara.

Oya, khusus untuk kasus ini, nggak ada salahnya juga buat kita kalo mau ngasih pelajaran bagi Israel saat ini. So, yuk kita lawan Israel. Perangi sekarang juga. Berani kan? Allahu Akbar!

 
© Copyright 2009-2011 Secercah Harapan All Rights Reserved.
Blog Design by Sarpandi | Published by Borneo Theme | Powered by Blogger.com.
National Futures Association (NFA) pedoman tersebut mengharuskan kami menginformasikan klien kami dari risiko yang terkait dengan perdagangan mata uang. Semua ide-ide dan informasi perdagangan termasuk dalam ini dan semua sumber daya ForexJust dimaksudkan sebagai bahan pendidikan untuk membantu Anda dalam perencanaan perdagangan Anda sendiri. Perdagangan valuta asing pada margin membawa tingkat resiko yang tinggi, dan mungkin tidak cocok untuk semua investor. Tingginya leverage dapat bekerja melawan Anda serta bagi Anda. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam valuta asing Anda harus hati-hati mempertimbangkan tujuan investasi anda, tingkat pengalaman, dan resiko. Klien harus menyadari bahwa ForexJust tidak melakukan keduanya janji atau jaminan bahwa klien justru akan menjadi seorang trader yang menguntungkan dengan produk apapun. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi hasil di masa mendatang. Ada kemungkinan bahwa Anda bisa mempertahankan kehilangan sebagian atau seluruh investasi awal Anda dan Anda seharusnya tidak perdagangan apapun uang yang Anda tidak mampu kehilangan. Anda harus menyadari semua risiko yang terkait dengan perdagangan valuta asing, dan mencari nasihat dari penasihat keuangan independen jika Anda memiliki keraguan.